Translate

Kamis, 10 September 2009

BEBERAPA METODE DALAM PEMBELAJARAN BAHASA

A. Hakikat Metode Pembelajaran Bahasa

Apa sesungguhnya metode itu? Jika kita mencoba memperhatikan berbagai metode yang ada sekarang, pertanyaan yang timbul ialah apakah sesungguhnya metode itu ? Jawaban terhadap pertanyaan ini tampaknya tergantung pada orang yang memberi jawabannya. Ada sebagian yang mengatakan “penentuan bahan yang akan diajarkan”, adapula yang mengatakan “cara-cara penyajian bahan”, dan sebagainya.Yang jelas apa yang dinamakan metode itu mencakup beberapa faktor, yaitu penentuan bahan, penentuan urutan bahan, cara-cara penyajian, dan sebagainya semuanya itu dilandaskan pada suatu sistem tertentu untuk mencapai tujuan tertentu pula. Ada kalanya seorang pengajar perlu menggunakan beberapa metode dalam menyampaikan suatu pokok bahasan tertentu. Dengan variasi beberapa metode selain tidak membosankan, pada suatu saat dapat mengatasi kekurangan pengajar dalam hal-hal tertentu. Tak ada satu metodepun yang dianggap paling baik diantara metode-metode yang lain. Setiap metode mempunyai karateristik tertentu dengan segala kelebihan serta kelemahan masing-masing. Suatu metode mungkin baik untuk suatu tujuan tertentu, pokok bahasan maupun situasi dan kondisi tertentu, tetapi tidak tepat untuk situasi lain. Juga suatu metode yang dianggap baik untuk suatu pokok bahasan tertentu, tetapi ada kalanya belum berhasil dengan baik jika digunakan oleh pengajar lain.

B. Metode Pembelajaran Bahasa Pada dasarnya antara metode pembelajaran bahasa dan metode-metode lain, tak banyak bedanya. Apa yang dimaksud dengan metode pembelajaran bahasa pada hakikatnya adalah apa yang dimaksud oleh tujuan pembelajaran itu sendiri. Semua situasi pembelajaran, apakah baik atau jelek, mencakup beberapa aspek; yaitu, a) pemilihan bahan, b) peningkatan bahan dan c) cara-cara penyajian mated pembelajaran serta cara-cara pengulangan materi tersebut.

a. Pemilihan materi perlu dilakukan, karena tidaklah mungkin membelajarkan semua hal yang tercakup dalam bidang ilmu yang sangat luas itu. Oleh karena itu terpaksa perlu diadakan pemilihan, mana diantaranya yang diajarkan sesuai dengan tujuan pembelujaran yang akan dicapai. Peningkatan dan penentuan urutan pemberian materi secara sekaligus diajarkan. Dalam hal ini terpaksa pembelajaran bagian-bagian tertentu lebih dulu dad bagian-bagian yang lain. Cara-cara penyajian materi perlu dipikirkan karena tak mungkin diajarkan sesuatu dengan hasil baik jika tidak dipikirkan cara-cara penyajian mana yang dapat memperoleh hasil sebagaimana yang diinginkan oleh tujuan yang ingin dicapai. Pengulangan pemberian materi perlu diberikan, karena tak mungkin mempelajari sesuatu keterampilan hanya dari satu contoh. Semua keterampilan akan tergantung pada frekuensi latihan yang diperoleh. . b. Apakah bahasa itu?

Bahasa adalah suatu pengertian yang luas dan kompleks. Bahasa adalah suatu sistem.Pertama adanya sistem bunyi. Sistem bunyi ini kenyataannya membentuk sistem bentuk. Dalam pemakaiannya sistem bentuk membentuk sistem struktur. Akhimya sistem sistem itu membentuk sistem arti. Sistem-sistem ini dianalisis untuk dapat menentukan apa yang harus diajarkan. Analisis itu akan menghasilkan, 1. Adanya bunyi-bunyi bahasa 2. Adanya bunyi-bunyi bahasa yang mempunyai arti. 3. Adanya bentuk-bentuk yang mempunyai arti. 4. Adanyajenis-jenis urutan tertentu jika bentuk-bentuk yang mempunyaim arti itu muncul bersama-sama. 5. Adanya sistem bentuk-bentuk dan pola-pola urutan membentuk unit-unit arti.

Hasil analisis adalah bahan mentah yang akan dijadikan bahan dalam penyusunan metode. Cara-cara penyajian a. Aspek linguistiknya : mana yang harus disajikan lebih dulu, apakah bahasa tertulis atau bahasa lisan. b. Aspek penyajiannya : apakah benda dan situasi yang dipakai sebagai alat bantu adalah benda-benda dan situasi-situasi yang sesungguhnya atau diciptakan kemudian? Apakah gambar-gambar, film, film strip, tape recorder atau gabungannya dipakai sebagai aiat atau sebagai alat bantu? Kapan, dan bagaiman carapenggunaannya.

C. Pengulangan dalam Rangka Pembentukan Keterampilan. Bagaimana cara-cara yang dipakai untuk menumbuhkan kebiasaan berbahasa yang baik? Berapa banyak tugas tugas yang diberikan untuk bercakap-cakap, mendengar, membaca dan mengarang? Kapan dan bagaimana cara melakukannya? Bagaimana cara yang dilakukan untuk mengetahui apa yang telah diajarkannya itu dipahami atau dikuasai oleh pembelajar? Apakah dengan ulangan, tugas-tugas atau dengan cara-cara lain? Bagaimana melakukannya? Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa menerapkan suatu metode sesuai dengan suatu metode sesuai dengan kemampuan berpikir, kemudahan pembelajar menerima materi. dunia guru” adalah “dunia kelas” yang mewajibkan guru untuk melaksanakan proses pembelajaran sebagai proses pendidikan yang diharapkan secara “ajaib” (magically) dapat memanusiakan manusia. Guru juga dituntutharapkan mampu menyajikan proses pembelajaran yang bukan semata transfer pengetahuan, keterampilan, dan sikap, lefapi uga memiliki efek pendamping (nurturing effect) yang tersiraf dalam proses tersebut dan yang meningkatkan kemandirian siswa.

Oleh karena ifu, guru harus sanggup menciptakan kondisi proses pembelajaran yang menjamin kebebasan berpikir siswa sesuai dengan perkembangan talenta; dengan memantapkan delapan kompetensi dasar yang harus dimiliki siswa. Sejalan dengan pemikiran di atas, Kurikulum 1994 Garis-Garis Besar Program Pembelajaran Bahasa Indonesia SLTP Muatan Lokal dirancang sesuai dengan prinsip-prinsip pembelajaran bahasa. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (1 996) pendidkan diartikan sebagai ‘proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakari manusia melalui upaya pengajaran (kini berpadanan dengan ‘pembelajaran’) dan pelatihan’. jika kita mencermati (meIalui pengajaran atau pembelajaran sebagai media atau alat untuk mendewasakan manusia) definisi pendidikan di atas; maka pendidikan menyangkut bukan saja aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap seseorang, tetapi juga meliputi pembentukan diri seseorang secara keseluruhan.

Seperti yang diungkapkan oleh Leksono dalam Drost (1998) bahwa pendidikan, melalui pembelajaran, adalah soal manusia yang akan memaknai masa depan kemanusiaan itu sendiri. Pertanyaan yang bisa diajukan: Siapakah yang harus berperan dan melaksanakan pendidikan? Masih sejalan dengan Leksono, ternyata banyak pihak merasa perlu terlibat dalam persoalan dan pelaksanaan pendidikan. Mulai dari ahli di bidang pendidikan yang memahami persoalan pendidikan hingga ke “tulang sumsumnya”, orang tua yang memang berhak untuk menaruh harapan agar anak-anaknya memperoleh pendidikan yang terbaik, dan tentu saja ‘guru’ yang dalam pelaksanaan proses pendidikan berhubungan Iangsung dengan siswa. “Dunia guru” adalah “dunia ke las yang mengharuskan guru untuk melaksanakan proses pembelajaran sebagai proses pendidikan yang diharapkan secara “ajaib” (magically) dapat memanusiakan manusia. Lebih lanjut, guru juga dituntutharapkan mampu menyajikan proses pembelajaran yang bukan semata transfer pengetahuan, keterampilan, dan sikap, tetapi juga memiliki efek pen- damping (nurturing effect) yang tersirat dalam proses tersebut dan yang meningkatkan kemandirian siswa. Singkat kata, guru adalah fasilitas harapan yang dapat memanusiakan manusia. Dan, karena itu pula, guru harus sanggup menciptakan kondisi proses pembelajaran yang menjamin kebebosan berpkir siswa sesuai dengan perkembangan talenta; dengan memantapkan delapan kompetensi dasar yang harus dimiliki siswa, yaitu:

Membaca, yang perlu dilatihkan untuk memantapkan kemampuan pemikiran kanseptual;

Menulis, melatih siswa untuk cermat dalam merancang jalan pemikiran yang teratur;

Mendengar, melatih siswa untuk mendengar dan memahami orang lain;

Menutur, yaitu berkomunikasi secara lisan;

Menghitung, melatih kemampuan berpikir teratur dan memanfaatkan nalar;

Mengamati, yaitu menggunakan indera secara ferpadu;

Mengkhayal, yaitu melatih daya cipta dan visualisasi; serta

Menghayati, yaitu melatih kemampuan menempatkan din pada kedudukan arang lain (Sudarsono dalam Hadis, 1999:12).

D. Metode Ceramah dalam Pembelajaran

Yang dimaksud dengan ceramah ialah penerangan dan penuturan secara lisan. Dalam pelaksanaan ceramah untuk menjelaskan uraiannya, pengajar dapat menggunakan alat bantuseperti gambar-gambar. Tetapi metode utama, berhubungan antara pengajar dengan pembelajar ialah berbicara. Peranan dalam metode ceramah adalah mendengarkan dengan teliti dan mencatat pokok-pokok penting yang dikemukakan oleh pengajar. Ceramah wajar dipergunakan 1. Kalau pengajar akan menyampaikan fakta (kenyataan) atau pendapat dan tidak, terdapat bahan bacaan yang merangkum fakta atau pendapat yang dimaksud. 2. Kalau pengajar harus menyampaikan fakta kepada pembelajar yang besar jumlahnya atau karena besarnya kelompok pendengar sehingga metode-metode yang lain tidak mungkin dapat dipergunakan. 3. Kalau pengajar adalah pembicara yang bersemangat dan akanrnerangsang pembelajar untuk melaksanakan sesuatu pekerjaan. Dalam metode Ceramah Organisasi kelas sederhana Dengan ceramah, persiapan satu-satunya bagi pengajar adalah buku catatanya. Pada seluruh jam pelajaran ia berbicara sambil berdiri atau kadang-kadang duduk. Cara ini paling sederhana dalam pengaturan kelas, jika dibandingkan dengan metode demonstrasi di mana pengajar harus membagi kelas ke dalam beberapa kelompok, ia harus merubah posisi kelas dan sebagainya.

a. Kelemahan metode ceramah 1. Pengajar tak dapat mengetahui sampai di mana pembelajar telah mengerti pembicaraannya.Kadang-kadang pengajar beranggapan bahwa bila pembelajar duduk diam mendengarkan atau sambil mengangguk-anggukkan kepala, berarti pembelajar telah mengerti. Padahal anggapan tersebut sering meleset; walaupun, pembelajar menunjukkan reaksi seolah-olah mengerti, akan tetapi pengajar tidak mengetahui sejauh mana penguasaan pembelajar terhadap pelajaran itu. Oleh karena itu segera setelah ia berceramah, harus diadakan evaluasi, misalnya dengan tanyajawab 2. Kata-kata yang diucapkan pengajar, ditafsirkan lain oleh pembelajar. Dapat terjadi bahwa pembelajar niemberikan pengertian yang berlainan dengan apa yang dimaksud oleh pengajar. Kiranya perlu kita sadari bahwa tidak ada arti yang mutlak bagi setiap kata tertentu.Kata kata yang diucapkan hanyalah bunyi yang disetujui penggunaanya dalam suatu masyarakat untuk mewakili suatu pengertian. Misalnya: kata modul, bagi mahasiswa UT, pengertiannya adalah salah satu bentuk bahan belajar yang berujud buku materi pokok.Sedangkan bagi-para astronot, modul diartikan sebagai salah satu komponen dari pesawat luar angkasa. Itulah sebabnya maka setiap anak harus membentuk perbendaharaan bahasanya berdasarkan pengalaman hidupnya sehari-hari. Selama ada persamaan pendapat antar pembicara dengar pendengar untuk mengerti maksud pembicara. Bila pengajar menggunakan kata-kata yang abstrak seperti “kepribadian”, “kesusialaan”, “keadilan”, mungkin bagi setiap anak pengertiannya tidak sama atau sangat kabur untuk mengartikan kata-kata itu. Lebih-lebih lagi bila kata-kata itu dirangkaikan dalam suatu kalimat, akan semakin banyaklah kemungkinan salah tafsir arti pembicaraan pengajar. Itulah sebabnya seringkali pembelajar sama sekali tidak sapat memperoleh pengertian apapun dari pembicaraan pengajar. Maka bila pengajar ingin menjelaskan sesuatu yang kiranya masih asing bagi anak, pengajar dapat menyertakan peragaan dalam ceramahnya. Peragaan tersebut dapat berbentuk benda yang sesungguhnya, model-model dari benda, menggambarkan dengan bagan atau diagram di papan tulis.

b. Batas batas kemungkinan metode ceramah

a. Pengajar tidak dapat mengetahui sampai di mana murid telah mengerti (memahami) yang telah dibicarakan.

b. Pada pembelajar dapat terbentuk konsep yang lain dari pada kata-kata yang dimaksudkan oleh pengajar tersebut.

c. Bagaimana mempersiapakan ceramah yang berdaya guna?

Langkah-langkah di bawah ini pada umumnya merupakan langkah yang dapat mempertinggi hasil metode ceramah.

a. Rumuskan tujuan khusus yang hendak dipelajari oleh pembelajar.

b. Setelah menetapkan tujuan, hendaklah diselidiki apakah .metode ceramah benar-benar merupakan metode yang sangat pada tempatnya.

c. Susuanan bahan ceramah yang benar-benar perlu diceramahkan.

d. Pengertian yang dapat dijelaskan dengan alat atau dengan uraian yang tertentu harus ditetapkan sebelumnya.

e. Tangkaplah perhatian siswa dan arahkan pada pokok yang akan diceramahkan.

f. Kemudian usahakan menanam pengertian yang jelas. Hal ini biasa dilaksanakan dengan melalui beberapa jalan misalnya : Pertama, pengajar memberikan ikhtisar ringkas mengenai pokok-pokok yang akan diuraikan. Kedua, pengajar menguraikan pokok tersebut dan akhirnya menyimpulakan pokok-pokok penting dalam pembicaraan itu.

g. Adakan rencana penilaian. Teknik evaluasi yang wajar digunakan untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan-tujuan khusus itu perlu ditetapkan.

E. Metode Diskusi dalam Pembelajaran

Metode diskusi ialah suatu cara penyampaian bahan pelajaran dan guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternatif pemecahan masalah. Dalam kehidupan modern ini banyak sekali masalah yang dihadapi oleh manusia; sedemikian kompieksnya masalah tersebut sehingga tak mungkin hanya dipecahkan dengan satu jawaban saja. tetapi kita harus menggunakan segala pengetahuan kita untuk memberi pemecahan yang terbaik. Ada kemungkinan terdapat lebih-dari satu jawaban yang benar sehingga harus menemukan jawaban yang paling tepat di antara sekian banyak jawaban tersebut. Kecakapan untuk memecahkan masalah dapat dipelajari.-Untuk iru siswa harus dilatih sejak kecil. Persoalan yang kompleks sering kita jumpai dalam kehidupan bermasyarakat, karenanya dibutuhkan pemecahan atas dasar kerjasama. Dalam hal ini diskusi merupakanjalan yang banyak memberi kemungkinan pemecahan terbaik. Selain memberi kesempatan untuk mengembangkan ketrampilan memecahkan masalah, juga dalam kehidupan yang demokratis kita diajak untuk hidup bermusyawarah, mencari keputusan-keputusan atas dasar persetujuan bersama. Bagi anak-anak, latihan untuk peranan peserta dalam kehidupan di masyarakat.

a. Penggunaan Metode Diskusi Seperti telah disinggung sekilas, bahwa metode tanya jawab dengan diskusi saling mencakup tetapi berbeda. Ada pertanyaan yang mengandung unsur diskusi, tetapi ada yang tidak. Dengan diskusi guru berusaha mengajak siswa untuk memecahkan masalah. Untuk pemecahan suatu masalah diperlukan pendapat-pendapat berdasarkan pengetahuan yang ada, dengan sendirinya kemungkinan terdapat lebih dari satu jawaban, malah mungkin terdapat banyak jawaban yang benar. agar mendapatkan gambaran yang jelas, marilah kita perhatikan contoh pertanyaan-pertanyaan berikut ini :

1. Bilamanakah bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa kesatuan di negara kita ?

2. Mengapa peserta Sipenraaru maupun PMDK pada tahun ini menurun?

3. Apakah siaran teievisi sebaiknya d’iurus oleh Pemerintah, atau swasta ataukah sebagian pemerintah sebagian swasta?

4. Mengapa burung hantu tidak berdaya pada waktu siang?

5. Siapakah di antara kalian yang setuju diadakan ulangan secara mendadak?

6. Beberapa orang guru mengeluh bahwa daya tampung di sekolah mereka sangat berbatas. Jalan keluar apakah yang kiranya dapat ditempuh untuk mengatasi keadaan itu?

7. Bentuk acara yang bagaimanakah yang akan kamu pilih untuk memperingati hari kemerdekaan di sekolah kita?

8. Berapakah perbandingan antara angka kelahiran dan kematian penduduk dunia pada saat lahirnya bayi yang ke-5 milyar?

9. Mengapa pada saat ini banyak remaja laki-laki yang memakai perhiasan?

10.Jalan apakah yang dapat ditempuh untuk mengurangi penderitaan rakyat di Afrika Selatan?

Perhatikanlah sifat-sifat pertanyaan di atas. Pertanyaan no. 1,4 dan 8 memerlukan jawaban berfakta, jadi pertanyaan tersebut bukan diskusi melainkan tanya-jawab. Pertanyaan no. 5 hanya memerlukan pemungutan suara, tidak akan menjadi diskusi bila guru tidak meminta pendirian serta alasan siswa. Nomor 3 dan 9 meminta pertimbangan tentang fakta-fakta, maka diskusi menjadi hidup, karena akan muncul berbagai pandangan yang dapat dibenarkan. Sedangkan nomor 6, 7 dan 10 membutuhkan rencana bertindak dari pihak siswa, dan mengandung kemungkinan jawaban lebih dari satu. Pertanyaan-pertanyaan yang baik untuk metode diskusi : 1) Menguji kemungkinan jawaban yang dapat dipertahankan lebih dari sebuah. 2) Tidak menanyakan “Manakah jawaban yang benar” tetapi lebih menekankan kepada “mempertimbangkan dan-membandingkan”. Misalnya : Manakah kiranya yang paling baik. pemecahan mana yang mungkin lebih berhasil. manakah yang akan lebih memberikan manfaat. 3) menarik minat anak dan sesuai dengan taraf kemampuan/umurnya.

b. Peranan Guru atau Pemimpin Diskusi Kemungkinan-kemungkinan jawaban yang bagajmana yang dapat dirumuskan oleh kelas terhadap suatu masalah ? Selama diskusi pemimpin atau guru kelas melihat adanya sejumlah jawaban yang mungkin, kemudian memilih jawaban yang dianggap merupakan jawaban yang setepat tepatnya. Hal manakah yang telah diterima oleh suara terbanyak sebagai persetujuan? Tindakan apakah yang sudali direncanakan ? Siapa yang melaksanakan, dan bilamana ? Kebaikan Metode Diskusi 1) Siswa belajar bermusyawarah 2) Siswa mendapat kesempatan untuk menguji tingkat pengetahuan masing-masing 3) Belajar menghargai pendapat orang lain . 4) Mengembangkan cara berpikir dan sikap ilmiah Kekurangan/Kelemah an Metode Diskusi 1) Pendapat serta pertanyaan siswa dapat menyimpang dari poko persoalan. 2) Kesulitan dalam menyimpulkan sering menyebabkan tidak ada penyelesaian. 3) Membutuhkan waktu cukup banyak.

c. Jenis-jenis Diskusi 1) Buzz Group Suatu kelas yang besar dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil 4 atau 5 orang. Tempat duduk diatur sedemikian rupa sehingga siswa saling berhadapan untuk memudahkan pertukaran pendapat. Diskusi ini dapat diadkan di tengah-tengah atau akhi 2) Fish Rowt Diskusi terdiri dari beberapa orang peserta yang dipimpin oleh seorang ketua. Tcmpat duduk diatur setengah lingkaran dengan dua atau tiga kursi kosonu menghadap peserta, seolah-olah menjaring ikan dalam sebuah mangkuk (fish boxvli. Kelompok pendengar yang ingin menyumbangkan pikiran dapat duduk di kursi kosong tersebut. Ketua mempersilahkan berbicara dan setelah selesai kembali ketempat semula. 3) Whole Group Suatu kelas merupakan satu kelompok diskusi dengan jurnlah anggota tidak lebih dari 15 anggota. 4) Syndicate group Suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil yang terdiri dari 3-6 orang. Gurumenjelaskan garis besar masalah dengan aspek-aspeknya. kemudian tiap kelompok bertugas membahas suatu aspek tertentu dan membuat kesimpuian untuk diiaporkan dalam sidang pleno serta didiskusikan lebih lanjut. 5) Brainstorming Merupakan suatu diskusi di mana anggota kelompok bebas menyumbangkan ide-ide baru terhadap suatu masalah tertentu. di bawah seorang ketua. Semua ide >ang sudah masuk dicatat. untuk kemudian diklasifikasikan menurut suatu urutan tertentu. Suatu saat mungkin ada diantara ide baru tersebut yang dirasa menarik untuk dikembangkan. 6) Informal debate Kelas dibagi menjadi dua team yang agak sama besarnya unluk memperdebatkan suatu bahan yang problematis, tanpa memperhatikan peraturan diskusi panel. 7) Colloqinin Merupukan suatu kegiatan dimana siswa’mahasiawa dihadapkan pada narasumber untuk mengajukan pertanyaan. selanjuinya mengandung perianyaan-penanyaan tambahan dari siswa. mahasiswa yang lain. Pelajaran dengan maksud untuk memperjelas bahan pelajaran yang telah diterima Pemimpin diskusi dapat dipegang oleh guru sendiri, tetapi dapat juga diserahkan kepada siswa bila guru ingin memberi kesempatan kepada siswa unluk belajar memimpin.Kecakapan memimpin diskusi memang harus dilatih, bila kita menginginkan keberhasilan suatu diskusi. Seseorang .yang belum berpengalaman memimpin diskusi, suatu saat dapat menjadi kebingungan apabila terjadi pembicaraan yang jauh menyimpang dari pokok persoalan, Dapat pula terjadi. seseorang yang senang berbicara akan menguasai seluruh pembicaraan sehingga tidak memberi kesempatan kepada teman yang lain untuk Tnengemukakan pendapat.Demikian pula diantara peserta diskusi saling bertentangan pendapatnya, bagi pemimpin yang belum trampil, tidak dapat mencarikan jalan tengah sehingga seringkali diskusi berakhir lanpa adanya suatu kesimpulan yang jelas. Bila siswa belum pernah mengenal lata cara diskusi, rnereka akan berbicara secara serempak atau spontan menanggapi bila ada suatau pendapat yang menarik. Juga sering terjadi beberapa siswa belum memahami persoalan .sehingga memberikan komentar yang menyimpang dan berkepanjangan. Akibat suasana menjemukan dan tidak dapat-melihat kemajuan-kemajuan apa yang telah dicapai. Pemimpin diskusi yang baik, akan sanggup dengan cepat mengambil tindakan menghadapi ketimpangan-ketimpangan tersebut diatas. Untuk itulah para siswa perlu dilatih untuk memperoleh ketrampilan pemimpin yang pada hakikatnya dapat dipelajari. Prof. DR. Winarno Surakhmad dalam bukunya “Metodologi Guruan Nasional” mengemukakan tiga peranan pemimpin diskusi ialah sebagai (1) pengatur lalu lintas, (2) dinding penangkis, dan (3) penunjuk jalan Pemimpin sebagai pengatur lalu lintas Sebagai seorang pemimpin. la berhak untuk : - Menunjukkan pertanyaan-pertanyaan kepada anggota - Menjaga agar tidak semua anggota bicara secara serempak - Mencegah dikuasai’nya pembicaraan oleh orang-orang tertentu yang gemar berbicara - Membuka kesempatan bagi anggota yang pemalu atau pendiam untuk menyumbangkan ide-ide mereka - Mengatur sedemikian sehingga setiap pembicaraan dapat ditangkap dengan jelas oleh pendengar. Dari peran tersebut, dapat kita lihat bahwa pemimpin akan belajar memahami sifat-sifat para peserta. la akan belajar bagaimana mendorong si pendiam untuk ikut serta dan bagaimana mencegah anggota yang senang berbicara dan membuka kesempatan bagi anggota lain secara merata. Untuk membatasi orang yang senang berbicara, misalnya dapat dikatakan :“Baik. saya rasa pendapat anda itu telah dituangkan dengan jelas, coba mari kita lihat beberapa pendapat yang lain”. Atau kepada si pendiam :

Langkah-langkah Model Pembelajaran Inovatif

A. Model Examples Non Examples
Contoh dapat dari Kasus/Gambar yang Relevan dengan Kompetensi Dasar
Langkah-langkah :

1. Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran
2. Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui OHP/In Focus
3. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk memperhatikan/menganalisa gambar
4. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas
5. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya
6. Mulai dari komentar/hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai
7. Kesimpulan

B. Picture And Picture
Langkah-langkah :

1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
2. Menyajikan materi sebagai pengantar
3. Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi
4. Guru menunjuk/memanggil siswa secara bergantian memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis
5. Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut
6. Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai
7. Kesimpulan/rangkuman

C. Numbered Heads Together
Langkah-langkah :

1. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor
2. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya
3. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya/mengetahui jawabannya
4. Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka
5. Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain
6. Kesimpulan

D. Cooperative Script
Metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan bergantian secara lisan mengikhtisarkan, bagian-bagian dari materi yang dipelajari

Langkah-langkah :
1. Guru membagi siswa untuk berpasangan
2. Guru membagikan wacana/materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan
3. Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar
4. Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya. Sementara pendengar : (a) Menyimak/mengoreksi/menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap; (b) Membantu mengingat/menghafal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya
5. Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya. Serta lakukan seperti diatas.
6. Kesimpulan Siswa bersama-sama dengan guru
7. Penutup

E. Kepala Bernomor Struktur
Langkah-langkah :

1. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor
2. Penugasan diberikan kepada setiap siswa berdasarkan nomorkan terhadap tugas yang berangkai. Misalnya : siswa nomor satu bertugas mencatat soal. Siswa nomor dua mengerjakan soal dan siswa nomor tiga melaporkan hasil pekerjaan dan seterusnya
3. Jika perlu, guru bisa menyuruh kerja sama antar kelompok. Siswa disuruh keluar dari kelompoknya dan bergabung bersama beberapa siswa bernomor sama dari kelompok lain. Dalam kesempatan ini siswa dengan tugas yang sama bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerja sama mereka
4. Laporkan hasil dan tanggapan dari kelompok yang lain
5. Kesimpulan

F. Student Teams-Achievement Divisions (Stad)/Tim Siswa Kelompok Prestasi (Slavin, 1995)
Langkah-langkah :

1. Membentuk kelompok yang anggotanya = 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dll)
2. Guru menyajikan pelajaran
3. Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Anggotanya tahu menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
4. Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu
5. Memberi evaluasi
6. Kesimpulan

G. Jigsaw (Model Tim Ahli)/(Aronson, Blaney, Stephen, Sikes, And Snapp, 1978)
Langkah-langkah :

1. Siswa dikelompokkan ke dalam 4 anggota tim
2. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda
3. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan
4. Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka
5. Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh
6. Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi
7. Guru memberi evaluasi
8. Penutup

H. Problem Based Introductuon (PBI)/(Pembelajaran Berdasarkan Masalah)
Langkah-langkah :

1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Menjelaskan logistik yang dibutuhkan. Memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
2. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll.)
3. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah.
4. Guru membantu siswa dalam merencanakan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya
5. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan

I. Artikulasi
Langkah-langkah :

1. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
2. Guru menyajikan materi sebagaimana biasa
3. Untuk mengetahui daya serap siswa, bentuklah kelompok berpasangan dua orang
4. Suruhlan seorang dari pasangan itu menceritakan materi yang baru diterima dari guru dan pasangannya mendengar sambil membuat catatan-catatan kecil, kemudian berganti peran. Begitu juga kelompok lainnya
5. Suruh siswa secara bergiliran/diacak menyampaikan hasil wawancaranya dengan teman pasangannya. Sampai sebagian siswa sudah menyampaikan hasil wawancaranya
6. Guru mengulangi/menjelaskan kembali materi yang sekiranya belum dipahami siswa
7. Kesimpulan/penutup

J. Mind Mapping
Sangat baik digunakan untuk pengetahuan awal siswa atau untuk menemukan alternatif jawaban
Langkah-langkah :

1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
2. Guru mengemukakan konsep/permasalahan yang akan ditanggapi oleh siswa/sebaiknya permasalahan yang mempunyai alternatif jawaban
3. Membentuk kelompok yang anggotanya 2-3 orang
4. Tiap kelompok menginventarisasi/mencatat alternatif jawaban hasil diskusi
5. Tiap kelompok (atau diacak kelompok tertentu) membaca hasil diskusinya dan guru mencatat di papan dan mengelompokkan sesuai kebutuhan guru
6. Dari data-data di papan siswa diminta membuat kesimpulan atau guru memberi bandingan sesuai konsep yang disediakan guru

K. Make – A Match (Mencari Pasangan) (Lorna Curran, 1994)
Langkah-langkah :

1. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban
2. Setiap siswa mendapat satu buah kartu
3. Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang
4. Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban)
5. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin
6. Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya
7. Demikian seterusnya
8. Kesimpulan/penutup

L. Think Pair And Share (Frank Lyman, 1985)
Langkah-langkah :

1. Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin dicapai
2. Siswa diminta untuk berfikir tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru
3. Siswa diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (kelompok 2 orang) dan mengutarakan hasil pemikiran masing-masing
4. Guru memimpin pleno kecil diskusi, tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya
5. Berawal dari kegiatan tersebutmengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diuangkapkan para siswa
6. Guru memberi kesimpulan
7. Penutup

M. Debat
Langkah-langkah:

1. Guru membagi 2 kelompok peserta debat yang satu pro dan yg lainnya kontra
2. Guru memberikan tugas untuk membaca materiyang akan didebatkan oleh kedua kelompok diatas
3. Setelah selesai membaca materi. Guru menunjuk salah satu anggotanya kelompok pro untuk berbicara saat itu ditanggapi atau dibalas oleh kelompok kontra demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa bisa mengemukakan pendapatnya.
4. Sementara siswa menyampaikan gagasannya guru menulis guru menulis inti/ide-ide dari setiap pembicaraan di papan tulis. Sampai sejumlah ide yang diharapkan guru terpenuhi
5. Guru menambahkan konsep/ide yang belum terungkap
6. Dari data-data di papan tersebut, guru mengajak siswa membuat kesimpulan/rangkuman yang mengacu pada topik yang ingin dicapai.

Sumber : Bahan Pelatihan LPMP Jawa Barat

Rabu, 19 Agustus 2009

MEMBACA CEPAT

I. PENDAHULUAN
Manusia modern tampaknya tidak dapat melepaskan diri dari media komunikasi. Salahsatu media komunikasi yang banyak dihadapi adalah media tulus baik buku teks maupun media massa. Setiap hari kita disuguhi banyak media massa., apalagi dalam era keterbukaan dan reformasi seperti saat ini. A[abila kita tidak menaruh perhatian pada media massa tersebut, pastilah kita akan tertinggal. Sebaliknya, apabila kita ingin membaca semua informasi tulis tersebut, pastilah banyak waktu tersita hanya untuk membaca. Untuk itu ketrampilan membaca dengan cepat dan efektif perlu dimiliki oleh semua pihak baik pelajar, mahasiswa, maupun manusia lain yang ingin terlibat secara aktif dalam percaturan kehidupan.
Ada berbagai jenis membaca dan masing-masing jenis mempunyai spesifikasi dan fungsi khusus. Untuk itu, jenis-jenis tersebut perlu dipahami sehingga kita dapat semakin meningkatkan kemampuam membaca baik kemampuan membaca cepat maupum kemampuan membaca efektif.

II. MEMBACA CEPAT
Yang dimaksud membaca cepat adalah sistem membaca dengan memperhitungkan waktu baca dan tingkat pemahaman terhadap bahan yang dibacanya. Apabila waktu bacanya semakin sedikit dan tingkat pemahamannya semakin tinggi, maka dikatakan bahwa kecepatan baca orang tersebut semakin meningkat.
Pada umumnya orang yang belum pernah mendapat latihan membaca pasti memiliki kecepatan baca yang lebih rendah dari kemampuannya. Ada beberapa hal yang menyebabkan rendahnya kecepatan baca seseorang, antara lain
a. Kebiasaan lama yang telah mendarah daging seperti menggerakkan bibir untuk melafalkan, menggerakkan kepala ke kanan dan ke kiri, dan menggunakan jari atau benda untuk menunjuk kata-kata yang dibacanya.
b. Tidak agresif (tidak bersemangat) dalama usaha memahami arti bacaan.
c. Persepsinya kurang sehingga lambat dalam menginterpretasikan apa yang dibacanya.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan kecepatan baca seseorang terhambat, antara lain
a. Vokalisasi, yaitu membaca sambil bersuara atau mengucapkan kata demi kata yang dibacanya.
b. Gerakan bibir pada waktu membaca baik bersuara mauapun tak bersuara.
c. Gerakan kepala mengikuti kata-kata yang dibacanya.
d. Menunjuk (dengan jari atau alat lain) kata-kata yang dibaca pada waktu membaca.
e. Regresi, yaitu gerakan mata melihat kembali beberapa kata yang telah dibacanya.
f. Subvokalisasi, yaitu melafalkan apa yang dibacanya dalam hati atau pikiran.

Untuk meningkatkan kecepatan baca kita, pertama-tama kita perlu mengukur kecepatan baca kita. Untuk itu perlu diadakan pengukuran kecepatan baca kita. Rumusnya :
(Jumlah kata yang dibaca dibagi jumlah detik untuk membaca dikalikan 60) dikalikan prosentase pemahaman.

Kecepatan baca bergantung pada kebutuhan dan bahan yang dihadapinya. Pada umumnya kecepatan baca dapat dirinci sebagai berikut :
a. Membaca secara skimmming dan scannning (lebih dari 1000 kpm)
Tipe membaca seperti ini biasanya digunakan untuk
- mengenal bahan-bahan yang akan dibaca
- mencari jawaban atas pertanyaan tertentu
- mendapat struktur dan organisasi bacaan serta menentukan gagasan umum dari bacaan
b. Membaca dengan kecepatan tingngi (500 – 800 kpm)
Tipe membaca seperti ini biasanya digunakan untuk
- membaca bahan-bahan yang mudah dan telah dikenali sebelumnya
- membaca novel ringan untuk mengikuti jalan ceritanya.
c. Membaca secara cepat (350 – 500 kpm)
Biasanya digunakan untuk
- membaca bacaan yang mudah dalam bentuk deskripsi dan bahan-bahan nonfiksi lain yang bersifat informatif.
- Membaca fiksi yang agak sulit untuk menikmati keindahan sastranya dan mengantisipasi akhir cerita.
d. Membaca dengan kecepatan rata-rata (250 – 350 kpm)
Biasanya digunakan untuk
- membaca fiksi yang komplek untuk analisis watak dan jalan ceritanya.
- Membaca nonfiksi yang agak sulit untuk mendapatkan detail, mencari hubungan, atau membuat evaluasi ide penulis.
e. Membaca lambat (100 – 125 kpm)
Biasanya digunakan untuk
- mempelajari bahan-bahan yang sulit dan untuk menguasai isinya.
- Menguasai bahan-bahan ilmiah yang sulit dan bersifat teknis
- Membuat analisis bahan-bahan bernilai sastra klasik
- Memecahkan persoalan yang ditunjuk dengan bacaan yang bersifat instruksional (petunjuk).

III. MEMBACA PEMAHAMAN
Membaca pemahaman berkaitan erat dengan usaha memahami hal-hal penting dari apa yang dibacanya. Yang dimaksud membaca pemahaman atau komprehensi adalah kemampuan membaca ntuk mengerti ide pokok, detail penting, dan seluruh pengertian. Pemahaman ini berkaitan erat dengan kemampuan mengingat bahan yang dibacanya. Usaha efektif untuk memahami dan mengingat lebih lama dapat dilakukan dengan
a. mengorganisasikan bahan yang dibacanya dalam kaitan yang mudah dipahami.
b. Mengaitkan fakta yang satu dengana fakta yang lain atau menghubungkannya dengan fakta dan konteks.
Tingkat pemahaman dalam membaca berkaitan pula dengan sistem membaca yang dipakainya. Umumnya orang cendenrung langsung membaca teks tanpa mempersiapkan prakondisi sehingga pembacaaan terssebut menjadi efektif.
Ada beberapa sistem membaca, antara lain
1. SQ3R : survey-question-read-recite-review
2. SQ4R : survey-question-read-recite-rite-review
3. POINT : purpose-overview-interpret-note-test
4. OK4R : overview-key ideas-read-summarize-test

Salahsatu sistem yang banyak dikenal dan dipakai orang adalah SQ3R. Sistem membaca SQ3R dikemukakan oleh Francis P. Robinson pada tahun 1941. SQ3R merupakan proses membaca yang terdiri dari lima langkah, yaitu
1. SURVEI
Survei atau prabaca adalah teknik mengenal bahan sebelum membacanya secara lengkap. Tujuan srvei adalah
a. mempercepat menangkap arti
b. mendapatkan abastrak
c. mengetahui ide-ide penting
d. melihan susunan (organisasi) bahan bacaan.
e. Mendapatkan minat perhatian yang seksama terhadap bacaan.
f. Memudahkan mengingat lebih banyak dan memahami lebih mudah.
Ada beberapa teknik dalam melakukan survei. Untuk tiap jenis bacaan, teknik surveinya berbeda.
a. Tekni survei buku
- telusuri daftar isinya
- baca kata pengantar
- lihat tabel, grafik
- lihan apendiks
- telusuri indeks
b. Teknik survei bab
- lihat paragraf pertama dan terakhir
- lihat ringkasan
- lihat subjudul
c. Teknik survei artikel
- baca judul
- baca semua subjudul
- amati tabel
- baca pengantar
- baca kalimat pertama subbab
- buatlah keputusan (dibaca atau tidak)
d. Teknik survei klipping
- perhatikan judul
- perhatikan penulisnya

2. QUESTION
Pada langkah ini kita mengajukan pertanyaan sebanyak-banyaknya tentang isi bacaan.
3. READ
Perlu disadari bahwa membaca merupakan langkah ketiga, bukan langkah pertama.
4. RECITE/RECALL
Pada tahap ini Anda dapat membuat catatan seperlunya
5. REVIEW
Pada tahal ini Anda mencoba mengingat kembali dengan membaca ulang bacaan yang Anda baca.

Menemukan Ide Pokok Wacana
Memahami suatu teks berarti memahami ide pokok yang hendak disampaikan oleh penulis teks tersebut. Untuk itu fokus pembacaan haruslah diletakkan pada usaha memahami ide pokok penulis. Ide pokok suatu buku dapat dikenali dalam
a. ikhtisar umum yang ada di awal buku
b. ikhtisar bab
c. ikhtisar bagian bab
d. ide pokok paragraf
Kadang-kadang orang terlalu membuang waktu untuk detail sebelum dia menemukan ide pokoknya. Detail adalah fakta atau informasi yang dikemas dalam paragraf untuk membuktikan, menjabarkan, dan memberikan contoh yang mendukung ide pokok. Salahsatu cara mengenali detail penting adalah dengan mencari petunjuk-petunjuk yang digunakan oleh penulis untuk membantu pembaca, antara lain dengan
a. ditulis cetak miring
b. digarisbawahi
c. dicetak tebal
d. dibubuhi angka-angka
e. ditulis dengan kode huruf (a,b,c,d)
Kata-kata kunci merupakan kata penuntun untuk membantu mengetahui jalan pikiran penulis. Kata kunci antara lain
a. ungkapan penekanan
b. kata yang mengubah arah
c. kata ilustrasi
d. kata tambahan
e. kata simpulan

IV. MEMBACA KRITIS
Membaca secara kritis adalah cara membaca dengan melihat motif penulis dan menilainya. Dengan demikian, pembca tidak sekedar membaca, melainkan juga berpikir tentang masalah yang dibahas. Hal yang harus diingat dalam membaca kritis adalah bahwa tidak semua yang ditulis itu benar.
Untuk itu kita harus mengikuti jalan pikiran penulis dengan cepat, akurat, dan kritis. Akurat artinya mampu membedakan hal yang relevan dan tidak relevan. Kritis artinya menerima pemikiran yang ditulis dengan dasar yang baik, logis, benar, dan realistis.
Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam membaca kritis adalah
a. mengerti isi bacaan
b. menguji sumber penulisan
c. ada interaksi antara penulis dan pembaca.
d. Memutuskan :menerima atau menolak ide penulis
Untuk dapat melakukan evaluasi terhadap gagasan orang lain, kita perlu mengingat-ingat secara lebih seksama apa saja yang dikemukakan oleh penulis. Untuk itu, ingatan sangat penting. Ada beberapa langkah yang dapat ditempuh agar kita dapat mengingat lebih lama ddan lebih baik, yiatu
a. hadapi bahan dengan tujuan
b. survei apa saja yang perlu diingat
c. cai fakta dan dapatkan dalam hubungannya dengana konteks
d. kaitkan apa yang dibaca dengan yang telah diketahui.
e. Perhatikan apa yang penting bagi Anda.

Dalam usaha menanggapi pendapata orang lain, kita tidak boleh melupakan hal-hal yang penting yang diungkapkan oleh penulis. Agar tidak terlupakan perlu dibuat sejumlah catatan dari bacaan yang kita baca. Pokok-pokok yang perlu dicatat antara lain
a. bagian-bagian kunci :ide pokok, masalah, informasi penting
b. asumsi penulis tentang segi tertentu
c. detail atau fakta yang kita perlukan
d. pokok-pokok yang menarik
Ada tiga jenis catatan, yaitu
a. catatan berupa koleksi fakta dan detail penting
b. catatan berupa kutipan kalimat, paragraf, kata kunci
c. catatan berupa ringkasan

V. SKIMMING DAN SCANNING
Skimming adalah cara membaca yang hanya untuk mendapatkan ide pokok bacaan. Scanning adalah cara membaca dengan cara melompat langsung ke sasaran yang dicari.
Bagian-bagian yanag dapat dilompati antara lain
a. bagian yang telah diketahui dari buku lain
b. bagian yang berisi informasi yang tidak memenuhi tujuan membaca
c. bagian yang hanya merupakan contoh atau ilustrasi
d. bagian yang merupakan ringkasan bab sebelumnya.
Yang dimaksud skimming adalah mencari hal-hal penting dari bacaaan. Fungsi skimming adalah
a. untuk mengenali topik bacaan
b. untuk mengetahui pendapat/opini orang
c. untuk mendapatkan bagian penting yang kita butuhkan
d. untuk mengetahui organisasi penulisan, urutan ide pokok, dan cara berpikir penulis.
e. Untuk penyegaran apa yang pernah dibaca.
Scanning adalah teknik membaca untuk mendapatkan suatu informasi tanpa membaca yang lain. Scanning biasa digunakan untuk
a. mencari nomor telepon
b. mencari kata pada kamus
c. mencari eintri pada indeks
d. mencari angka statistik
e. melihat acara siaran televisi
f. melihat daftar perjalanan

Model Pembelajaran Kelas Awal

Tidak masalah apa model pengalaman pra sekolah dan taman kanak-kanak, kelas satu Sekolah Dasar merupakan suatu kondisi baru yang merepresentasikan perubahan radikal. Menghabiskan lebih dari tigapuluh jam setiap minggu, jauh dari rumah, seringkali merupakan pengalaman baru; mereka harus bertanggungjawab atas tindakan dan tugas-tugas mereka.
Dalam tugas-tugas akademis, kemampuan pengamatan begitu banyak diperlukan untuk keberhasilan kelas. Sebagai contoh, Pengejaan, pada dasarnya suatu pengalaman visual. Mula-mula, sebagian besar anak Pendengar adalah pengeja yang baik, karena ketergantungan mereka pada kemampuan menangkap suara untuk memproduksi ulang kata-kata kalimat tunggal sederhana, yang merupakan tanda pengalaman pembaca dan penulis dasar pemula. Tetapi pada Bahasa Inggris, misalnya pengucapan ejaan huruf tertentu tidak sama dengan lambang hurufnya maka Pengamatlah yang mampu memahami ejaan katadalam mata pikirnya dan menjadi pengeja yang baik.
Menulis Tangan, juga merupakan pelajaran yang oleh Pengamat dirasakan mudah. Bagi penulis pemula, ingatan visual yang baik diperlukan untuk mengingat beragam huruf dan bentuk nomer sebelum menggoreskan di atas kertas. Koordinasi mata-tangan yang berkembang baik kemudian diperlukan untuk memprodukasi ulang huruf dan angka secara tepat ketika dimunculkan kembali. Kemampuan ini membantu ketika Pengamat selama mengikuti kelas kesenian .
Pada mata pelajaran Matematika, anak-anak Pengamat dapat mengingat simbol-simbol yang digunakan dalam penjumlahan danpengurangan (+, - , dan =). Pengamat juga mudah mengartikan grafik. Mereka juga unggul dalam memvisualisasikan beragam bentuk dan bangun geometris dan juga gambaran soal cerita,” Aini mempunyai enam jambu tetapi diberikan kepada Eka dua buah. Tinggal berapa jambu yang dimiliki oleh Aini sekarang?

Mata Pelajaran Pendengaran

Diantara mata pelajaran yang paling memerlukan kemampuan mendengar adalah membaca . Penguasaan membaca perlu karena dengan membaca seorang anak menyerap dan membedakan diantra suara-suara huruf yang berbeda, dan kemudian mencampur suara-suara tersebut untuk membentuk katakata yang terucap. Bahkan ketika membaca untuk dirinya sendiri, seorang anak “mengucapkan” tiap kata dalam pikirannya. Sangat mengejutkan, bahwa para pembaca yang paling awal biasanya para Pengamat, yang mengetahui kata-kata tertulis dengan menampilkan ingatan visual. Namun demikian, anak-anak Pengamat berda dibelakang ketika materi bacaan secara progresif menjadi lebih sulit. Mereka hanya dapat mengucapkan kata-kata yang mereka lihat sebelumnya. Mereka kurang memiliki kemampuan Pendengar yang diperlukan untuk menyesuaikan dengan kombinasi-kombinasi huruf yang tidak akrab.
Musik Dasar juga merupakan mata pelajaran pendengaran. Anak-anak diharapkan mendengarkan komposisi instrumental dan mengingat lirik maupun tempo yang semakin panjang dan kompleks ketika masa sekolah berjalan. Anak-anak dengan kemampuan auditorial dibawah rata-rata sangat tertekan untuk mendengarkan dan mengvokalkan. Dalam kenyataan, bahkan para Pendengar mungkin mengalami kesulitan dengan pembacaan musik atau pengetahuan nada, karena masing-masing kemampuan berasal dari sebuah bilik otak yang berbeda, dan dua bilik otak tidak selalu berkembang sama..
Matematika, merupakan hal mudah bagi anak Pendengar. Ingatan auditorial dan penangkapan cepat atas konsep bahasa yang berkembang baik memungkinkan untuk memproses informasi yang ada dalam soal-soal cerita. Pendengar juga mahir mengartikan kata-kata matematis seperti misalnya “segi empat”, “lingkaran”, “jam”; dan dengan mudah mengingat aturan dasar penjumlahan dan pengurangan; dan memperluas istilah “lebih banyak’, “lebih sedikit”, “tambah”, “kurang”, dan “sama dengan”.
Bekerja Sama Dengan Guru apapun kemampuan pembelajaran anak anda dan masalah yang mungkin muncul, anda akan mampu memberikan dukungan emosional dan bantuan praktis yang sangat baik ketika anda tetap mendapatkan informasi mengenai kehidupannya di sekolah. Pertemuan dua kali setahun dan buku raport catur wulan tentu saja bisa memberikan penjelasan namun tidak selalu memberikan informasi yang cukup terhadap masalah-masalah atau kondisi tertentu, misalnya permasalahan teman sebaya. Dengan terbiasa berkomunikasi dengan guru maka kita akan mengetahui bentuk tanggungjawab yang utuh antar guru dan orang tua dalam memaksimalkan potensi anak.

Fakta Yang Harus Disampaikan Kepada Guru

- Tingkat keteraturan kepribadian anak anda. Guru hendaknya diberitahu kenyataan bahwa anak anda mungkin memerlukan aturan dan rutinitas; atau ia dapat mengerjakan secara maksimal pada ruang terbuka atau bahwa ia memerlukan bantuan terus-menerus berkaitan dengan pengaturan materi.

- Fakta kemampuan dasar anak anda. Jika anak mengalami kesulitan dalam penjumlahna dan pengurangan, atau jika memiliki strategi khusus yang ia gunakan gunakan untuk mengingat materi subyek, beritahukanlah gurunya.

- Memberi les tambahan. Beritahukan kepada guru jikalau anda memberi les tambahan kepada anak anda. Hal ini dimaksudkan agar ada kerjasam yang saling mengisi antara guru kelas dan guru les tambahan.

- Informasi yang terkait kesehatan. Pada kondisi tertentu guru harus diberitahu tentang kesehatan anak dan pengobatan yang harus diberikan misalnya bila anak mengidap asma, epilepsi. Ataupun informasi yang terkait mengenai masalah pendengaran dan penglihatan.

- Situasi dirumah. Anda akan sangat membantu anak anda dengan memberitahukan kepada guru mengenai adanya perubahan besar dalam rumahtangga, terapi atau perlakuan salah dari anggota keluarga. Perubahan-perubahan besar seperti ini sangat mempengaruhi kemampuan anak untuk berperan di dalam kelas.

- Bahasa kedua. Ketika bahasa lain digunakan di rumah anda, baik sebagai sarana komunikasi utama maupun pelengkap diantara keluarga, maka guru hendaknya mengetahui hal tersebut. Hal ini agar guru memahami beberapa ketidaksenangan yang mungkin diperlihatkan oleh anak ketika ekspresi percakapan semakin kompleks.

- Rekomendasi. Penting untuk menyampaikan kepada guru mengenai masukan dari para ahli atau guru sebelumnya.

Pertanyaan Yang Harus Anda Ajukan Kepada Guru

- Apakah pekerjaan rumah anak anda selesai dan dikumpulkan tepat waktu ? Jika tidak, cari tahu apakah guru tidak memberi tugas dan paket materi untuk dikerjakan di rumah. Tanyakan kepada guru bagaimana anda dan anak anda dapat bekerja sama untuk mengurangi masalah pekerjaan rumah.

- Apakah anak anda menyelesaikan sebagian besar tugas kelasnya ? Jika tidak, faktor apa yang tampak menjadi penghalang? Tanyakan kepada guru apakah perubahan tempat duduk dapat membantu, atau apakah ada cara untuk memodifikasi beban kerja anak anda sehingga ia dapat mengalami keberhasilan kelas dan mengembangkan sikap yang lebih positif terhadap tugas kelas.

- Apakah anak anda memperhatikan di dalam kelas ? Jika terdapat masalah, apa penyebabnya menurut guru ? Tanyakan, apa yang ia lakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut, dan jelaskan strategi yang anda lakukan di rumah untuk mempertahankan perhatian anak anda pada tugas.

- Pada tingkat apa kemampuan baca dan matematika anak anda saat ini ? tanyakan apakah guru merasa bahwa kemajuan anak secara tepat merefleksikan kemampuannya.

- Apakah guru merekomendasikan bentuk bantuan tenaga ahli ? Dengan didasarkan pada perilaku kelas anak anda, apakah guru merasa bahwa seorang tutor atau psikolog dan tes ketidakmampuan belajar diperlukan ? Jika ya, minta guru untuk menjelaskan alasan atas rekomendasi tersebut.

- Pada tingkat apa anak anda berpartisipasi dalam diskusi kelas ? Apakah anak anda menyampaikan informasi, atau apakah ia menjawab hanya ketika diminta ? Dapatkah ia mengucapkan secara memuaskan ketika ia memiliki ide untuk dikemukakan ? Apakah ia merupakan seorang pendengar yang baik ketika bersama yang lain ? Jika tidak, tanyakan kepada guru apa yang perlu dilakukan untuk membantu situasi tersebut, daan jika perlu, diskusikan kemungkinan-kemungkinan solusi lain.

- Bagaimana pergaulan sosial anak anda ? Tanyakan kepada guru siapakah teman-teman anak anda, dan apakah ada seseorang yang menjadi teman bermain setelah sekolah. Cari tahu apakah anak anda menjadi pusat perhatian atau seorang yang penyendiri, dan diskusikan perasaan anak anda mengenai posisi ini. Juga tanyakan bagaimana anak anda memperlakukan teman kelasnya.

- Apakah yang dapat anda lakukan di rumah untuk membantu anak anda ? Guru mungkin memiliki ide-ide khusus tentanmg dukungan emosional ataupun akademis yang kan mempercepat perkembangan anak anda atau menyelesaikan masalah yang ada. Tunjukkan keinginan anda untuk bekerja sama dengan guru demi keberhasilan anak anda.




MODEL PEMBELAJARAN DAN AKTIVITAS EKSTRA KURIKULER

Aktivitas ekstrakurikuler dan waktu bermain informal juga sangat penting bagi anak kelas satu. Anaka anda biasanya tertarik pada aktivitas setelah sekolah karena ada teman mereka atau karena klub atau olah raga memiliki daya tarik visual. Ketertarikan paad segala bentuk ekstrakurikuler akan membantu anak anda mengembangkan ketertarikan dan kemampuan sosialnya. Jika anak anda memerlukan bimbingan untuk menentukan kegiatan ekstrakurikuler nya maka pilih kegiatan yang bisa memperkuat kemampuan yang kurang berkembang.

Aktivitas Visual untuk Anak Kelas Satu

Kegiatan visual ideal kelas satu memberi kesempatan untuk pertama kali megamati dan kemudian mengingat atau meniru, serigkali dengan mengkoordinasikan penggunaan mata dan tangan. Daftar berikut ini merupakan pertimbangan yang baik untuk anak anda :
- Badminton atau ping-pong
- Komputer
- Kerajinan tangan
- Menggambar dan melukis
- Piano, aatau instrumen musik lainnya.
- Koleksi perangko,kartu olah raga, ayau koin.
- Mengetik

Aktivitas Auditorial dan Bahasa untuk Anak Kelas Satu
Untuk membangkitkan kemampuan auditorial dan bahasa, sebuah aktivitas hendaknya memberi seorang anak kesempatan untuk bersosialisasi, meemimpin sebuah kelompok, mendengar dan belajar atau menunjukkan bakat verbal. Inilah beberapa aktivitas Pendengar yang sangat baik bagi seorang anak kelas Satu.
- Pramuka
- Kelas Keramik
- Pertunjukan anak-anak
- Paduan Suara
- Program kemah atau rekreasi.
- Kelas Drama
- Bercerita di perpustakaan

Aktivitas Motoris Kasar untuk Anak Kelas Satu

Aktivitas motoris kasar yang sempurna bagi anak kelas satu adalah yang memiliki sedikit aturan untuk dilaksanakan dengan cara bertindak, yang mencakup menyentuh dan bergerak, mendorong penggunaan otot-otot besar anak atau yang memungkinkan anak untuk menghabiskan waktu di luar ruang. Programprogram berikut ini patut dipertimbangkan:
- Kelas aerobik atau fitnes
- Bersepeda
- Berpetualang dan berkemah
- Mengendarai kuda
- Seluncur es
- Program-program alam
- Terbang layang
- Berenang
- Tari tap, jazz, balet

Ketika menjelaskan kegiatan ekstrakurikuler kepada anak kelas satu anda, mohon tanamkan dalam pikiran setiap anak bahwa tanpa memandang model pembelajarannya, mereka memerlukan aktivitas fisik untuk alasan kebugaran dan kesehatan
Strategi Pekerjaan Rumah Untuk Pengamat, Pendengar Dan Penggerak.
Dari masa bayi sampai taman kanak-kanak, tujuan melakukan identifikasi model pembelajaran adalah untuk memberinya sebuah pendekatan pembelajaran yang lebih berimbang dengan mengembangkan kemampuan Pengamat, Pendengar, adan Penggerak ketika diperlukan. Tugas orang tua agak berubah pada saat anak menginjak kelas satu karena anak dituntut untuk memiliki kemampuan akademis. Anda dapat membantu anak kelas satu anda melakukan hal ini dengan mengajarkannya menggunakan cara pembelajaran dominannya untuk membaca, menulis, mengeja, danmengerjakan matematika yang ia lakukan di rumah maupun di sekolah.

Strategi untuk Pengamat

Seorang anak Pengamat memerlukan ruang kerja yang rapi, yang teratur, dengan semua materi berada dalam tatanan yang jelas. Berikan kotak dan keranjang warna-warni, yang rapi dimana ia dapat menyimpan pensil, krayon, kertas dan alat-alat lain. Tempatkan sebuah dafter pelajaran dan juga lembaran kertas menarik untuk mencatat tiaap tugas yang terselesaikan .Gunakan beragam stiker, bintang dan wajah-wajah cerah sebagai penghargaan karena tekun dengan beban tugas bahasa.
Soal matematika bagi Pengamat akan lebih mudah apabila divisualisaikan mungkin dengan mengelompokkan kelereng atau manik-manik untuk merepresentasikan jumlah yang ia ingin tambahkan atau kurangkan. Anda dapat memberi pena-pena yang gemerlap, dan beri dorongan anak anda untuk menggunakannya mewrnai kata-kat atu nama-nama yang penting dalam bacaannya. Juga gunakan kartu flash yang merupakan sebuah sarana yang sangat baik bagi Pengamat yang memiliki keunggulan dalam ingatan.

Strategi untuk Pendengar

Seorang anak Pendengar jarang perlu diingatkan untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Perkerjaan akademis begitu mudah baginya sehingga banyak mengerjakan tugas baginya merupakan kesenangan, bukan sebuah tugas atau beban. Meskipu ia tidakk perlu banyak dorongan dari luar, Pendengar tumbuh pada penguatan kerja verbal yang berkembang baik. Sangat membantu bagi seorang anak Pendengar untuk belajar berbicara dengan dirinya sendiri waktu melakukan tugas-tugas yang sulit. Juga doronglah
Pendengar untuk menggunakan tape rekaman pada waktu dia memahami sesuatu yang baru seperti rumus matematika, kata-kata dari sebuah lagu, maka ia dapat merkam informasi dan memutar kembali tape sehingga ia dengan mudah mengingatnya.

Strategi untuk Penggerak

Anak-aanakPenggerak memerlukan dukungan ketika ia memasuki dunia akademis. Merupakan ide yang baik untuk mempertahankan pendeknya waktu pekerjaan rumah Penggerak. Kehadiran anda secara fisik akan memnatu mempertahankan folus pada tugasnya. Matikan televisi, matikan telepon, jauhkan dari kebisingan ketika anak berkonsentrasi mengerjakan pekerjaan akademisnya. Memeluk, membalas menepuk sangat memotivasi bagi seorang anak Penggerak. Imbalan yang menarik lainnya bagi anak Penggerak yang selesai mengerjakan tugasnya adalah bermain di luar, membuatkan pizza dan memberikan makanan lainnya seperti keju, jagung atau segelas jus dingin secara periodik akan membuat waktu mengerjakan pekerjaan rumah lebih nyaman

Membangun Kemampuan Pengamat

Kemampuan-kemampuan Pengamat memungkinkan seorang anak untuik memperlihatkan lingkungannya, mengingat apa yang ia lihat, memvisualisasikan konsep, dan mengkoordinasikan mata dan tangannya. Oleh karena itu anak kelas satu dengan kemampuan pengamatan di bawah rata-rata akan sulit untuk membaca dan menulis, penjumlahan dan pengurangan, soal-soal cerita dan karya seni – yang semua memerlukan kemampuan-kemampuan yang anak belum miliki.
Kemampuan Pengamat seorang anak kelas satu dapat diperluas dan ditingkatkan melalui pemanfaatan alat permainan dan aktivitas yang dipilih khusus. Anak-anak yang pada dasarnya adalah Pengamat akan menyambut baik usaha orang tuanya untuk memberikan lebih banyak pengalaman visual yang mereka harapkan; Pendengar dan Penggerak mungkin perlu banyak usaha untuk meyakinkan dalam bentuk aktivitas yang sesuai dengan stimulan yang disukainya, baik auditorial maupun kinestatik. Namun apaun model bawaan lahir anak kelas satu anda, ide-ide berikut ini akan membantu anda untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan Pengamatnya.

Meningkatkan Kemampuan Pengamat Yang Ada Pada Anak Kelas Satu.

- Sertakan anak anda dalam permainan tongkat pengungkit.
- Bawa anak anda pada kunjungan galeri sei. Berikan banyak waktu untuk mempelajari, membandingkan dan memperhatikan kembali karya-karya seni yang menurutnya menarik.
- Pelajari peta bersama dengan anak anda. Ia akan senang mengamati kota kecilnya, kota besar , negara.
- Belilah program-program komputer untuk anak kelas satu.
- Dorong anak anda untuk memasangkan model mobil atau pesawat dari kotak-kotak kubus.
- Biarkan anak anda melihat buku-buku gambar mengenai bintang-bintang dan konstalasinya dan kemudian bantu mereka untuk memandang hal nyata dengan memberinya sebuah teleskop atau mengajaknya ke planetarium.
- Kunjungi observatorium terdekat untuk menambah wawasan pengetahuan.
- Dorong ekspresi artistik anak anda, dengan seleksi materi yang banyak – spidol, pewarna, cat air, kertas warna/krep.
- Sembunyikan sebuah ‘harta karun” kecil di dalam rumah atau halaman anda. Kemudian gambar sebuah peta harta karun dengan tanda visual yang dapat digunakan anak anda untuk menemukan benda yang disembunyikan.
- Berikan kertas origami dan cara pembuatan yang sederhana , bimbinglaah ia dalam berkarya.
- Beri label perabotan rumah – sebuah tempat tidur, sebuah lampu, sebuah meja- dengan kartu-kartu yang mengejakan nama-nama obyek.
Meningkatkan Perkembangan Kemampuan Pengamat Pada Anak Kelas Satu

Pendengar Dan Penggerak
- Bantu anak anda mendesain sebuah akuarium atau menggambar sebuah rencana untuk kebun tanaman. Bimbing ia untuk menyelesaikan program tersebut.
- Bawalah anak ke museum iptek danmuseum lainnya yang menarik dan membuka wawasan.
- Ajarkan anak anda untuk main petak umpet.
- Mainkan video game bersama dengan anak anda untuk membantu meningkatkan kemampuan berkonsentrasi secara visual.
- Mintalah untuk memainkan puzzle.
- Dorong anak anda untuk menyusun bangunan dari balok-balok atau potongan-potongan balok.
- Ajarkan anak untuk fokus pada detail visual dengan memberikan teropong untuk digunakan di luar rumah atau sebuah mikroskop mainan untuk digunakan di dalam rumah.
- Bacakan anak anda sebuah kisah dalam sebuah ruang gelap, dan minta ia untuk menggambarkan tindakan tersebut. Berilah pertanyaan yang akan menstimulasi gambaran visual seperti: ”Apa yang Cinderella pakai ke pesta dansa ?” dan”Keretanya seperti apa ?’
- Gambarlah /bentuklah dalam bidang persegi kalender untuk menunjukkan peristiwa-peristiwa penting – sebagai contoh ulang tahun, salju pertama, berangakat sekolah, gantung kalender tersebut di kamar anak.

Membangun Kemampuan Pendengar

Kemampuan untuk bercakap-cakap, mengekspresikan diri, dan bersosialisasi merupakan hal yang sangat tidak ternilai bagi siswa-siswa dari semua umur, namun khususnya pada masa sekolah dasar, ketika kepercayaan diri dan sikap seorang anak kepada sekolah mulai terbentuk. Dan tentu saja kemampuan Pendengar juga diperlukan untuk membaca, musik dan aspek-aspek tertentu dari matematika. Apakah anak anda seorang Pengamat, Pendengar atau Penggerak, ia tetap mendapat manfaat dari perkembangan kemampuan auditorial dan bahasa.
Sebagaimana biasanya, Pendengar dangan sendirinya akan sangat reseptif atas semaua pengalaman Pendengar yang orang tua berikan. Namun meskipun demikian seorang Pengamat dan Penggerak juga dapat meningkatkan kepandaian verbal dan auditorialnya dengan menggunakan maina dan teknik yang menggunakan baik kemampuan belajar bawaan lahirnya maupun kemampuan yang anda harapkan berkembang.

Meningkatkan Kemampuan Pendengar Yang Ada Pada Anak Kelas Satu.

- Mainkan kata kunci, sebuahpermainan di mana seorang pemain mencoba memberikan kesempatan pemain kedua untuk menebak sebuah kata tertentu dengan memberikan sinonim dan satu kata petunjuk awal yang lain.
- Ijinkan anak anda untuk menerima panggilan telepon dari keluarga dan teman.
- Ketika anda membaca bersama, bacalah dua buku; satu buku yang anak anda akan dengarkan dan satu buku lain yang anak anda akan bacakan kepada anda.
- Sarankan anak anda agar mulai menulis buku harian atau jurnal dimana ia dapat membuat catatan mengenai peristiwa-peristiwa khusus dalam hidupnya. Dorong penggunaan ejaan inventif sehingga anak anda dapat bereksperimen dengan kata-kata yang lebih menyenangkan.
- Tunjukkan kepada anak berita utama dan foto-foto surat kabar yang berkaitan dengan tiap cerita.
- Sarankan anak anda agar menulis buku ceritanya sendiri. Gunakan waktu bersama dengan membicarakan mengenai cerita, dorong ia untuk menambahkan ilustrasi, dan ketika selesai ikatlah hasilnya dengan pita atau benang.
- Bacakan puisi kepada anak anda, dan dorong ia untuk menulis puisinya sendiri. Bantu ia dengan memberi tema-tema yang memungkinkan.
- Penuhi sisi sosial anak anda memperbolehkannya mengundang seorang teman untuk makan siang atau menginap.


Meningkatkan Perkembangan Kemampuan Pendengar Bagianak Kelas Satu

Pengamat Dan Penggerak
- Bangun kosa kata anak anda dengan menggunakan gambar-gambar.
- Berikan mikrofon ukuran anak-anak dengan sebuah amplifier yang dioperasikan dengan baterai. Dorong anak anda untuk menggunakannya untuk mengungkapkan sebuah gurauan, menyanyi, atau mengucapkan kata.
- Pada waktu berada di dalam mobil putarlah kaset kesayangannya.
- Mintalah dia untuk menggambarkan sesuatu yang ia sukai- contoh rumah nenek, lapangan, seekor binatang – dan bantu ia untuk membuat sebuah kisah mengenai apapun yang ia gambar.
- Buatlah sebuah papan cerita dengan menggunakan potongan-potongan tersusun yang digunting dari majalah. Anda dan dia dapaat kembali menceritakan sebuah kisah mengenai gambar yang ia pilih.
- Buatlah permainan sinonim. Katakan “ Apa kat lain untuk luas ? …. Rusak?….. mobil?” dan seterusnya.
- Berjalan-jalanlah bersama anak anda, dan gunakan waktu tersebut untuk mempraktekkan katakata sajak dan menamai kata-kata dengan arti yang sebaliknya.

Membangun Kemampuan Penggerak

Anak anda mungkin tidak memerlukan kemampuan Penggerak ketika ia membaca, menulis, atau mengingat fakta-fakta matematika, namun itu tidak berarti bahwa kemampuan Penggerak akan diabaikan. Seorang anak yang memiliki kecepatan dan koordinasi seorang Penggerak juga memiliki rasa percaya diri yang akan tetap ada pada dirinya dalam semua perilaku. Oleh sebab itu, penting untuk mengembangkan kemampuan motoris kasar anak anda, apapun pilihan pembelajaran bawaannya

Meningkatkan Kemampuan Penggerak Yang Ada Pada Anak Kelas Satu.
- Bermainlah bersama dengan anak untuk membangun sebuah kandang burung, balok keseimbangan atau rumah mainan.
- Doronglah anak untuk menaiki mainan menunggang kuda.
- Ikatlah net atau talli di halaman belakang rumah anda, gunakan untuk sebuah permainan badmintoon atau bola voli.
- Pada hari yang berangin, ajarkan kepada anak anda bagaimana menerbangakan sebuah layang-layang.
- Masukkan anak anda kekelas tari atau sei bela diri
- Dorong anak anda untuk berpartisipasi dalam sebuah olah raga yang teratur, seperti softball, baseball, atau soccer.
- Perkenalkan anak dengan ski.
- Cari tempat bermain baru dan berbeda, dimana anak dapat bermain.

Meningkatkan Perkembangan Kemampuan Penggerakan Bagi Anak Kelas Satu

Pengamat Dan Pendengar

- Bawa anak anda ke halaman belakang untuk permainan kejar-kejaran
- Rencanakan petualangan mini bersama anak anda seperti, wosata ke pantai, pergi ke sebuah festival seni, ke sebuah pertunjukan, atau ke dermaga.
- Minta bantuan anak anda untuk menanam dan merawat kebun sayuran atau bunga. Tunjukkan satu bagian dimana dia dapat bereksperimen dan berkreasi.
- Beri saran anak anda, agar mengundang beberapa anak tetangga untuk bermain bola.
- Dirikan sebuah tenda atau unutk sementara dari selimut, dan berkemahlah bersama anak anda.
- Masukkan anak anda ke dalam kelas drama anak-anak.
- Daftarkan anak anda menjadi anggota pramuka.
- Hubungan sekolah anak anda untuk mengunjungi museum science atau IPTEK.
- Bersepedahlah bersama anak anda melewati lingkungan yang baru dan berbeda.

Ketika anda mempertimbangkan saran-saran tersebut di atas, janganlah terpaku hanya pada butir-butir yang ada di atas. Kreativitas anda dan dengan menyesuaikan kompetensi anak anda, maka andalah yang paling mengetahui aktivitas apa yang memungkinkan anak berkembang secara seimbang ketiga kompetensi anak.

Mohon bersabar ketika anda menanti hasilnya. Tingkat kemampuan anak anda yang berusia 6-7 tahun, saat ini berada dalam proses pembentukkan. Dan kemajuan mungkin membutuhkan wakut berminggu minggu atau berbulan-bulan. Meskipun demikiaan, tidak diragukan lagi, bahwa upaya anda akan membawa anak anda menjadi lebih mendapat perhatian anda, dengan membiarkannya menikmati kegembiraan maksimal dan memperoleh banyak peningkatan kemampuan belajar dari waktu yang ia habiskan di rumah

PEMBELAJARAN MEMBACA MELALUI PERMAINAN BAHASA

Belajar konstrultivisme mengisyaratkan bahwa guru tidak memompakan pengetahuan ke dalam kepala pebelajar, melainkan pengetahuan diperoleh melalui suatu dialog yang ditandai oleh suasana belajar yang bercirikan pengalaman dua sisi. Ini berarti bahwa penekanan bukan pada kuantitas materi, melainkan pada upaya agar siswa mampu menggunakan otaknya secaraefektif dan efisien sehingga tidak ditandai oleh segi kognitif belaka, melainkan oleh keterlibatan emosi dan kemampuan kreatif. Dengan demikian proses belajar membaca perlu disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan siswa (Semiawan, 2002:5).

Dalam hal ini guru tidak hanya sekedar melaksanakan apa yang ada dalam kurikulum, melainkan harus dapat menginterpretasi dan mengembangakn kurikulum menjadi bentuk pembelajaran yang menarik. Pembelajaran dapat menarik apabila guru memiliki kreativitas dengan memasukkan aktivitas permainan ke dalam aktivtas belajar siswa. Penggunaan bentuk-bentuk permainan dalam pembelajaran akan memberi iklim yang menyenangkan dalam proses belajar, sehingga siswa akan belajar seolah-olah proses belajar siswa dilakukan tanpa adanya ketrpaksaan, tetapi justru belajar dengan rasa keharmonisan. Selain itu, dengan bermain siswa dapat berbuat agak santai. Dengan cara santai tersebut, sel-sel otak siswa dapat berkembang akhirnya siswa dapat menyerap informasi, dan memperoleh kesan yang mendalam terhadap materi pelajaran. Materi pelajaran dapat disimpan terus dalam ingatan jangka panjang (Rubin, 1993 dalam Rofi’uddin, 2003).

Permainan dapat menjadi kekuatan yang memberikan konteks pembelajaran dan perkembangan masa kanak-kanak awal. Untuk itu perlu, diperhatikan struktur dan isi kurikulum sehingga guru dapat membangun kerangka pedagogis bagi permainan. Struktur kurikulum terdiri atas (1) perencanaan yang mencakup penetapan sasaran dan tujuan, (2) pengorganisasian, dengan mempertimbangkan ruang, sumber, waktu dan peran orang dewasa, (3) pelaksanaan, yang mencakup aktivitas dan perencanaan, pembelajaran yang diinginkan, dan (4) assesmen dan evaluasi yang meliputi alur umpan balik pada perencanaan (Wood, 1996:87).

Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, guru dapat melakukan simulasi pembelajaran dengan menggunakan kartu berseri (flash card). Kartu-kartu berseri tersebut dapat berupa kartu bergambar. Kartu huruf, kartu kata, kartu kalimat. Dalam pembelajaran membaca permulaan guru dapat menggunakan strategibermain dengan memanfaatkan kartu-kartu huruf. Kartu-kartu huruf tersebut digunakan sebagai media dalam permainan menemukan kata. Siswa diajak bermain dengan menyusun huruf-huruf menjadi sebuah kata yang berdasarkan teka-teki atau soal-soal yang dibuat oleh guru. Titik berat latihan menyusun huruf ini adalah ketrampilan mengeja suatu kata (Rose and Roe, 1990).

Dalam pembelajaran membaca teknis menurut Mackey (dalam Rofi’uddin, 2003:44) guru dapat menggunakan strategi permainan membaca, misalnya cocokkan kartu, ucapkan kata itu, temukan kata itu, kontes ucapan, temukan kalimat itu, baca dan berbuat dan sebagainya. Kartu-kartu kata maupun kalimat digunakan sebagai media dalam permainan kontes ucapan. Para siswa diajak bermain dengan mengucapkan atau melafalkan kata-kata yang tertulis pada kartu kata. Pelafalan kata-kata tersebut dapat diperluas dalam bentuk pelafalan kalimat bahasa Indonesia. Yang dipentingkan dalam latihan ini adalah melatih siswa mengucapkan bunyi-bunyi bahasa (vokal, konsonan, dialog, dan cluster) sesuai dengan daerah artikulasinya (Hidayat dkk, 1980).

Untuk memilih dan menentukan jenis permainan dalam pembelajaran membaca permulaan di kelas, guru perlu mempertimbangkan tujuan pembelajaran, materi pembelajaran dan kondisi siswa maupun sekolah. Dalam tujuan pembelajaran, guru dapat mengembangkan salah satu aspek kognitif, psikomotor atau sosial atau memadukan berbagai aspek tersebut. Guru juga perlu mempertimbangkan materi pembelajaran, karena bentuk permainan tertentu cocok untuk materi tertentu. Misalnya, untuk ketrampilan berbicara guru dapat menyediakan jenis permainan dua boneka, karena dengan permainan ini dapat mendorong siswa berani tampil secara ekspresif.

PEMBELAJARAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI PERMAINAN BAHASA DI KELAS AWAL SEKOLAH DASAR

Membaca permulaan merupakan tahapan proses belajar membaca bagi siswa sekolah dasar kelas awal. Siswa belajar untuk memperoleh kemampuan dan menguasai teknik-teknik membaca dan menangkap isi bacaan dengan baik. oLeh karena itu guru perlu merancang pembelajaran membaca dengan baik sehingga mampu menumbuhkan kebiasan membaca sebagai suatu yang menyenangkan. Suasana belajar harus dapat diciptakan melalui kegiatan permainan bahasa dalam pembelajaran membaca. Hal itu sesuai dengan karakteristik anak yang masih senang bermain. Permainan memiliki peran penting dalam perkembangan kognitif dan sosial anak. Kata kunci: membaca permulaan, permainan, sekolah dasar. Membaca merupakan salah satu ketrampilan berbahasa yang diajarkan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar. Keempat aspek tersebut dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu (1) ketrampilan yang bersifat menerima (reseptif) yang meliputi ketrampilan membaca dan menyimak, (2) ketrampilan yang bersifat mengungkap (produktif) yang meliputi ketrampilan menulis dan berbicara (Muchlisoh, 1992: 119). Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar (SD) bertujuan meningkatkan kemampuan siswa berkomunikasi secara efektif, baik lisan maupun tertulis. Ketrampilan membaca sebagai salah satu ketrampilan berbahasa tulis yang bersifat reseptif perlu dimiliki siswa SD agar mampu berkomunikasi secara tertulis. oLeh karena itu, peranan pengajaran Bahasa Indonesia khususnya pengajaran membaca di SD menjadi sangat penting. Peran tersebut semakin penting bila dikaitkan dengan tuntutan pemilikan kemahirwacanaan dalam abad informasi (Joni, 1990). Pengajaran Bahasa Indonesia di SD yang bertumpu pada kemampuan dasar membaca dan menulis juga perlu diarahkan pada tercapainya kemahirwacanaan. Ketrampilan membaca dan menulis, khususnya ketrampilan membaca harus segera dikuasai oleh para siswa di SD karena ketrampilan ini secara langsung berkaitan dengan seluruh proses belajar siswa di SD. Keberhasilan belajar siswa dalam mengikuti proses kegiatan belajar-mengajar di sekolah sangat ditentukan oleh penguasaan kemampuan membaca mereka. Siswa yang tidak mampu membaca dengan baik akan mengalami kesulitan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran untuk semua mata pelajaran. Siswa akan mengalami kesulitan dalam menangkap dan memahami informasi yang disajikan dalam berbagai buku pelajaran, buku-buku bahan penunjang dan sumber-sumber belajar tertulis yang lain. Akibatnya, kemajuan belajarnya juga lamban jika dibandingkan dengan teman-temannya yang tidak mengalami kesulitan dalam membaca. Pembelajaran membaca di SD dilaksanakan sesuai dengan pembedaan atas kelas-kelas awal dan kelas-kelas tinggi. Pelajaran membaca dan menulis di kelaskelas awal disebut pelajaran membaca dan menulis permulaan, sedangkan di kelas-kelas tinggi disebut pelajaran membaca dan menulis lanjut. Pelaksanaan membaca permulaan di kelas I sekolah dasar dilakukan dalam dua tahap, yaitu membaca periode tanpa buku dan membaca dengan menggunakan buku. Pembelajaran membaca tanpa buku dilakukan dengan cara mengajar dengan menggunakan media atau alat peraga selain buku misalnya kartu gambar, kartu huruf, kartu kata dan kartu kalimat, sedangkan membaca dengan buku merupakan kegiatan membaca dengan menggunakan buku sebagai bahan pelajaran. Tujuan membaca permulaan di kelas I adalah agar “Siswa dapat membaca kata-kata dan kalimat sederhana dengan lancar dan tepat (Depdikbud, 1994/1995:4). Kelancaran dan ketepatan anak membaca pada tahap belajar membaca permulaan dipengaruhi oleh keaktifan dan kreativitas guru yang mengajar di kelas I. Dengan kata lain, guru memegang peranan yang strategis dalam meningkatkan ketrampilan membaca siswa. Peranan strategis tersebut menyangkut peran guru sebagai fasilitator, motivator, sumber belajar, dan organisator dalam proses pembelajaran. guru yang berkompetensi tinggi akan sanggup menyelenggarakan tugas untuk mencerdaskan bangsa, mengembangkan pribadi manusia Indonesia seutuhnya dan membentuk ilmuwan dan tenaga ahli. 

PEMBELAJARAN MEMBACA PERMULAAN
Pembelajaran memabaca permulaan diberikan di kelas I dan II. Tujuannya adalah agar siswa memiliki kemampuan memahami dan menyuarakan tulisan dengan intonasi yang wajar, sebagai dasar untuk dapat membaca lanjut (Akhadiah, 1991/1992: 31). Pembelajaran membaca permulaan merupakan tingkatan proses pembelajaran membaca untuk menguasai sistem tulisan sebagai representasi visual bahasa. Tingkatan ini sering disebut dengan tingkatan belajar membaca (learning to read). Membaca lanjut merupakan tingkatan proses penguasaan membaca untuk memperoleh isi pesan yang terkandung dalam tulisan. Tingkatan ini disebut sebagai membaca untuk belajar (reading to learn). Kedua tingkatan tersebut bersifat kontinum, artinya pada tingkatan membaca permulaan yang fokus kegiatannya penguasaan sistem tulisan, telah dimulai pula pembelajaran membaca lanjut dengan pemahaman walaupun terbatas. Demikian juga pada membaca lanjut menekankan pada pemahaman isi bacaan, masih perlu perbaikan dan penyempurnaan penguasaan teknik membaca permulaan. 

PEMBELAJARAN MEMBACA MELALUI PERMAINAN BAHASA 
Belajar konstrultivisme mengisyaratkan bahwa guru tidak memompakan pengetahuan ke dalam kepala pebelajar, melainkan pengetahuan diperoleh melalui suatu dialog yang ditandai oleh suasana belajar yang bercirikan pengalaman dua sisi. Ini berarti bahwa penekanan bukan pada kuantitas materi, melainkan pada upaya agar siswa mampu menggunakan otaknya secaraefektif dan efisien sehingga tidak ditandai oleh segi kognitif belaka, melainkan oleh keterlibatan emosi dan kemampuan kreatif. Dengan demikian proses belajar membaca perlu disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan siswa (Semiawan, 2002:5). Dalam hal ini guru tidak hanya sekedar melaksanakan apa yang ada dalam kurikulum, melainkan harus dapat menginterpretasi dan mengembangakn kurikulum menjadi bentuk pembelajaran yang menarik. Pembelajaran dapat menarik apabila guru memiliki kreativitas dengan memasukkan aktivitas permainan ke dalam aktivtas belajar siswa. Penggunaan bentuk-bentuk permainan dalam pembelajaran akan memberi iklim yang menyenangkan dalam proses belajar, sehingga siswa akan belajar seolah-olah proses belajar siswa dilakukan tanpa adanya ketrpaksaan, tetapi justru belajar dengan rasa keharmonisan. Selain itu, dengan bermain siswa dapat berbuat agak santai. Dengan cara santai tersebut, sel-sel otak siswa dapat berkembang akhirnya siswa dapat menyerap informasi, dan memperoleh kesan yang mendalam terhadap materi pelajaran. Materi pelajaran dapat disimpan terus dalam ingatan jangka panjang (Rubin, 1993 dalam Rofi’uddin, 2003). Permainan dapat menjadi kekuatan yang memberikan konteks pembelajaran dan perkembangan masa kanak-kanak awal. Untuk itu perlu, diperhatikan struktur dan isi kurikulum sehingga guru dapat membangun kerangka pedagogis bagi permainan. Struktur kurikulum terdiri atas (1) perencanaan yang mencakup penetapan sasaran dan tujuan, (2) pengorganisasian, dengan mempertimbangkan ruang, sumber, waktu dan peran orang dewasa, (3) pelaksanaan, yang mencakup aktivitas dan perencanaan, pembelajaran yang diinginkan, dan (4) assesmen dan evaluasi yang meliputi alur umpan balik pada perencanaan (Wood, 1996:87). Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, guru dapat melakukan simulasi pembelajaran dengan menggunakan kartu berseri (flash card). Kartu-kartu berseri tersebut dapat berupa kartu bergambar. Kartu huruf, kartu kata, kartu kalimat. Dalam pembelajaran membaca permulaan guru dapat menggunakan strategibermain dengan memanfaatkan kartu-kartu huruf. Kartu-kartu huruf tersebut digunakan sebagai media dalam permainan menemukan kata. Siswa diajak bermain dengan menyusun huruf-huruf menjadi sebuah kata yang berdasarkan teka-teki atau soal-soal yang dibuat oleh guru. Titik berat latihan menyusun huruf ini adalah ketrampilan mengeja suatu kata (Rose and Roe, 1990). Dalam pembelajaran membaca teknis menurut Mackey (dalam Rofi’uddin, 2003:44) guru dapat menggunakan strategi permainan membaca, misalnya cocokkan kartu, ucapkan kata itu, temukan kata itu, kontes ucapan, temukan kalimat itu, baca dan berbuat dan sebagainya. Kartu-kartu kata maupun kalimat digunakan sebagai media dalam permainan kontes ucapan. Para siswa diajak bermain dengan mengucapkan atau melafalkan kata-kata yang tertulis pada kartu kata. Pelafalan kata-kata tersebut dapat diperluas dalam bentuk pelafalan kalimat bahasa Indonesia. Yang dipentingkan dalam latihan ini adalah melatih siswa mengucapkan bunyi-bunyi bahasa (vokal, konsonan, dialog, dan cluster) sesuai dengan daerah artikulasinya (Hidayat dkk, 1980). Untuk memilih dan menentukan jenis permainan dalam pembelajaran membaca permulaan di kelas, guru perlu mempertimbangkan tujuan pembelajaran, materi pembelajaran dan kondisi siswa maupun sekolah. Dalam tujuan pembelajaran, guru dapat mengembangkan salah satu aspek kognitif, psikomotor atau sosial atau memadukan berbagai aspek tersebut. Guru juga perlu mempertimbangkan materi pembelajaran, karena bentuk permainan tertentu cocok untuk materi tertentu. Misalnya, untuk ketrampilan berbicara guru dapat menyediakan jenis permainan dua boneka, karena dengan permainan ini dapat mendorong siswa berani tampil secara ekspresif.

DASAR-DASAR BERMAIN DRAMA

I.   PENDAHULUAN Drama adalah kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas dengan media  percakapan(dialog), gerak da...