Translate

Kamis, 10 September 2009

METODOLOGI PENGAJARAN BAHASA

Teori pembelajaran (mengajar dan belajar) bahasa pada umumnya didasarkan kepada empat konsep kunci: bahasa, belajar, mengajar bahasa, dan konteks;

1. Pembelajaran bahasa membutuhkan suatu konsep tentang hakikat bahasa.

2. Pembelajaran bahasa membutuhkan pandangan dan wawasan tentang pelajar dan hakikat belajar bahasa.

3. Pembelajaran bahasa mengimplikasikan pandangan tentang pengajar bahasa dan pengajaran bahasa.

4. Pembelajaran bahasa terjadi pada konteks tertentu. Penafsiran konteks amat penting dalam teori ini. Bahasa, belajar, dan mengajar pasti selalu dipandang dari satu konteks, latar, dan latar belakang.

Metodologi:

Metodologi secara ringkas dapat diartikan sebagai “ilmu mengenai metode”. Pengkajian metodologi pengajaran bahasa bersumber dari;

(a) pemerian bahasa yang dihasilkan oleh linguistik umum;

(b) teori pembelajaran yang dikaji oleh psikologi;

(c) teori pembelajaran bahasa yang disumbangkan oleh psikolinguistik; dan

(d) teori pemakaian bahasa dalam masyarakat yang diambil dari sosiolinguistik.

Anthony (1963):

Anthony (1963) yang melahirkan istilah approach (pendekatan), method (metode) dan technique (teknik):

l Approach adalah “seperangkat asumsi yang berhubungan dengan hakikat bahasa, belajar, dan mengajar.”

l Method ialah “suatu rencana menyeluruh mengenai panyajian bahasa yang sistematis berdasarkan pendekatan tertentu.

l Technique ialah “kegiatan-kegiatan khusus yang diwujudkan di dalam kelas yang konsisten dengan metode, dan olehnya itu juga sejalan dengan pendekatan.

Richards, dkk. (1985:177):

Memberikan batasan mengenai metodologi pengajaran bahasa sebagai kajian praktik dan prosedur yang digunakan dalam pengajaran, dan prinsip-prinsip dan keyakinan yang melandasinya. Metodologi meliputi:

l Kajian tentang hakikat keterampilan berbahasa (yaitu listening, speaking, reading dan writing) dan prosedur pengajarannya

l Kajian tentang penyiapan rencana pembelajaran, materi ajar, buku teks untuk pengajaran keterampilan berbahasa;

l Evaluasi dan perbandingan metode pengajaran bahasa (misalnya Audiolingual method);

l Metode dalam pengajaran bahasa menurut Richards, dkk. (1985:176) adalah cara mengajarkan suatu bahasa yang didasarkan kepada prinsip dan prosedur yang sistematis, yakni penerapan pandangan tentang cara bahasa diajarkan dan dipelajari.

l Metode pengajaran bahasa yang berbeda seperti Direct method, audio-lingual method, grammar translation method, the silent way dan communicative approach merupakan hasil dari pandangan yang berbeda tentang; (a) hakikat bahasa; (b) hakikat belajar bahasa; (c) tujuan pengajaran; (d) jenis silabus yang digunakan; (e) peran guru, pelajar, dan materi pembelajaran; dan (f) teknik dan prosedur yang digunakan.

Richards & Rodgers (1982, 1986):

l Mengajukan hasil kajian mereka yang merumuskan kembali konsep metode. Istilah Anthony approach, method dan technique dilabel menjadi approach, design dan procedure secara berturut-turut dengan payung istilah method yang menjelaskan proses tiga-langkah ini.

l Menurut Richards & Rodgers (1982:154), metode adalah “istilah yang memayungi spesifikasi dan hubungan antara teori dan praktik.” Approach adalah asumsi, keyakinan, dan teori mengenai hakikat bahasa dan belajar bahasa.

l Procedures merupakan teknik dan praktik yang diturunkan dari approach dan design.

Hakikat Bahasa

Hakikat bahasa dalam kaitannya dengan pengajaran bahasa menurut aliran linguistik strukturalisme adalah:

1. language is speech, not writing¸

2. a language is what its native speakers say, not what someone thinks they ought to say;

3. languages are different;

4. a language is a set of habit; dan

5. teach the language, not about the language.

Aliran linguistik transformational mengemukakan bahwa:

1. A living language is characterized by rule-giverned creativity.

2. the rules of grammar are psychologically real.

3. Man is specially equipped to learn languages. Secara biologis manusia lahir dengan suatu kemampuan belajar bahasa sehingga bahasa dapat dipelajari kapan saja sepanjang hidup manusia dalam situasi pemakaian yang bermakna.

4. A living language is a language in which we can think. Bahasa mengikat makna dan pikiran.

Beberapa pandangan tentang hakikat bahasa :

Bahasa bersifat lisan yang telah tertata dalam sistem simbol pandang dan dengar.

l Anak belajar menggunakan simbol ini secara kumulatif, pertama dalam mendengar (menyimak) dan berbicara, kemudian membaca dan menulis.

l Oleh karena itu, program pembelajaran bahasa mulai dengan kegiatan komunikasi lisan.

l Setelah anak menguasai keterampilan dalam aspek mendengar dan berbicara, barulah instruktur memulai kegiatan komunikasi tertulis.

l Bahasa mencerminkan lingkungan sosial tempat yang ditinggali anak, baik dari segi linguistik maupun tingkatan budaya serta pengaruh berbagai macam dialek dan geografis.

l Oleh karena itu, pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan pribadi, sosial, dan komunikasi siswa, serta mempertimbangkan pengaruh regional terhadap wicara, kosakata, dan penggunaan.

l Bahasa mengalami proses perubahan yang tetap, seperti pembentukan kata baru untuk memenuhi tuntutan komunikasi, tekanan sosial yang mengakibatkan perubahan terhadap keberterimaan item pemakaian khusus dan konstruksi bahasa.

l Oleh karena itu, bahasa diajarkan untuk mencerminkan penggunaan dan struktur kontemporer; alfabet, tulisan, kata dan ejaannya digunakan untuk merangsang minat siswa terhadap bahasa.

l Setiap bahasa memiliki struktur sendiri.

l Hubungan antara kata, urutan kata, pola kalimat dipelajari melalui pengalaman praktis dan kajian khusus.

l Oleh karena itu, program pembelajaran harus mencakup pembelajaran penggunaan bahasa dan struktur bahasa baku melalui pengalaman dalam percakapan, diskusi, laporan, wawancara, dan karangan.

l Pembelajaran itu meliputi konstruksi kalimat dan paragraf, dan secara bertahap memperkenalkan prinsip dan terminologi tata bahasa.

Penggunaan Bahasa:

§ Bahasa merupakan suatu bentuk perilaku, perlambang konsep diri dan sikap sosial seseorang yang menyimbolkan pikiran, keinginan, dan kepercayaannya.

§ Kemampuan mempelajari bahasa sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan pribadi dan perkembangan pemahaman dasar manusia.

§ Oleh karena itu, program pembelajaran bahasa menekankan penciptaan iklim yang hangat dan bersahabat yang mendorong setiap siswa berpartisipasi dalam kegiatan berbahasa lisan dan tulisan.

§ Bahasa merupakan alat berpikir yang membantu siswa berasionalisasi dan tumbuh melalui pengalaman mereka.

§ Oleh karena itu, kegiatan berbahasa dikembangkan untuk membantu setiap siswa melihat hubungan, membuat klasifikasi, menarik kesimpulan, menanggung resiko penebakan, memprakirakan hasil, merumuskan kesimpulan, dan membuat generalisasi.

§ Bahasa merupakan media pengembangan dan pertukaran gagasan.

§ Pengalaman itu harus mendorong interaksi antara siswa dan orang lain, yang tentunya menekankan tujuan komunikasi, penataan gagasan yang logis, dan kesensitifan terhadap reaksi pendengar atau pembaca.

§ Bahasa merupakan alat kekuasaan dan kekuatan sosial yang mempengaruhi kepercayaan, sikap, dan tingkah laku.

§ Bahasa merupakan alat kekuasaan dan kekuatan sosial yang mempengaruhi kepercayaan, sikap, dan tingkah laku.

§ Oleh karena itu, siswa diajarkan pentingnya tanggung jawab sosial dan integritas pribadi dalam penggunaan bahasa.

§ Bahasa dalam bentuk tertulis merupakan catatan pikiran manusia sepanjang zaman yang dapat memperkenalkan setiap anak kepada karya-karya sastra sehingga dapat menumbuhkan apresiasi keindahan bahasa sebagai media komunikasi.

§ Oleh karena itu, program pengajaran bahasa melengkapi siswa dengan pengalaman dalam prosa dan puisi untuk menumbuhkembangkan pemahamannya terhadap masalah manusia dan seperangkat nilai pribadi.

Prinsip Pembelajaran (Belajar & Mengajar) Bahasa

l Prinsip Kognitif Otomatisitas

l Pembelajaran bahasa kedua melibatkan pemindahan kendali beberapa bentuk pada saat yang tepat ke dalam pemrosesan otomatis sejumlah bentuk bahasa yang relatif tidak terbatas. Menganalisis bahasa secara berlebihan, terlalu memikirkan bentuk-bentuk bahasa, dan secara sadar berlama-lama pada kaidah dan aturan-aturan bahasa cenderung menghambat peningkatan ke arah otomatisitas.

Pembelajaran Bermakna

Pembelajaran bermakna akan menuntun kepada retensi jangka panjang yang lebih baik dibandingkan dengan rote learning. Beberapa kemungkinan penerapan prinsip di atas di dalam kelas sebagai berikut ini.

1. Gunakan kekuatan pembelajaran bermakna dengan menarik minat pelajar, tujuan akademik, dan tujuan karir pelajar;

2. Apabila topik atau konsep baru diperkenalkan, upayakan untuk menanamkannya dengan mempertimbangkan pengetahuan dan latar belakang pelajar sehingga topik baru itu dapat dikaitkan dengan apa yang diketahuinya;

3. Hindari kelemahan pembelajaran menghafal;

Antisipasi Penghargaan

Manusia secara umum terdorong untuk bertindak atau bertingkah-laku dengan mengharapkan semacam penghargaan nyata atau tidak nyata, jangka pendek atau jangka panjang yang akan terjadi sebagai akibat perilaku itu.

Prinsip Motivasi Intrinsik

l Penghargaan yang paling kuat adalah penghargaan yang secara intrinsik termotivasi dalam diri pelajar.

l Karena perilaku ini bersumber dari kebutuhan, keinginan, dan hasrat dalam diri seseorang.

l Perilaku itu sendiri dapat memberikan penghargaan terhadap diri sendiri; karena itu, tidak perlu sama sekali adanya penghargaan yang diberikan secara eksternal.

Investasi Strategis

Penguasaan bahasa kedua yang sukses sebagian besar disebabkan oleh investasi perorangan pelajar sendiri dari aspek waktu, upaya, dan perhatian kepada bahasa kedua dalam bentuk deretan strategi perorangan guna memahami dan memproduksi bahasa.

Prinsip Afektif-Ego Bahasa

l Sementara manusia belajar menggunakan bahasa kedua, mereka juga mengembangkan suatu modus baru berpikir, berperasaan dan bertindak—identitas kedua.

l Ego bahasa kedua yang bergandeng dengan bahasa kedua dengan mudah dapat menciptakan dalam diri pelajar suatu perasaan kerapuhan, kedefensivan, dan peningkatan hambatan.

Kepercayaan Diri

Keberhasilan yang dicapai pelajar dalam suatu tugas sebahagiannya merupakan faktor keyakinannya bahwa mereka benar-benar mampu menyelesaikan tugas itu.

Pengambilan Resiko

Pelajar bahasa yang sukses saat menilai diri mereka sendiri secara realistik merupakan orang yang rentan namun mampu menyelesaikan tugas harus sudi menjadi “penjudi” dalam permainan bahasa, mencoba menghasilkan dan menafsirkan bahasa sedikit di luar batas keyakinan mutlak mereka.

Hubungan Bahasa-budaya

l Kapanpun mengajarkan suatu bahasa, anda juga mengajarkan sistem budaya yang rumit, tata krama, nilai, dan cara berpikir, merasa, dan bertindak.

l Khusus dalam konteks pembelajaran bahasa kedua, keberhasilan yang pelajar biasakan terhadap lingkungan budaya yang baru akan mempengaruhi keberhasilan pemerolehan bahasanya, begitu pula sebaliknya.

Prinsip Linguistik

l Efek Bahasa Ibu

l Antarbahasa

l Kompetensi Komunikatif

Beberapa Metode Pengajaran Bahasa: Ciri dan Prinsipnya

l Grammar Translation method (Metode Terjemahan Tata bahasa)

l Direct Method (Metode Langsung)

l Reading Method (Metode Membaca)

l Audiolingual method (Medote audiolingual)

l Community Language Learning (CLL)

l Cognitive Approach (Pendekatan Kognitif)

l Total Physical Response (Respons Fisik Total)

l The Silent Way (Metode Diam)

l Functional-Notional Approach

l Communicative Approach (Pendekatan Komunikatif)

Communicative Approach (Pendekatan Komunikatif)

Berbagai teori mengenai Pendekatan Komunikatif mengasumsikan bahwa bahasa adalah alat komunikasi. Menurut Ellis & Beattie (1986), penggunaan bahasa manusia dapat dipahami dengan baik jika dipandang dari konteks alaminya sebagai seperangkat saluran yang tersedia bagi manusia untuk mengirimkan dan menerima informasi

Canale (1987) memberikan karakteristik komunikasi melalui bahasa berikut ini:

l Bahasa adalah suatu bentuk interaksi sosial dan oleh karena itu secara normal diperoleh dan digunakan dalam interaksi sosial;

l Bahasa melibatkan tingkat ketidak-teramalan dan kreativitas yang tinggi dalam bentuk dan pesan;

l Bahasa berlangsung dalam diskors dan konteks sosial budaya yang memberikan batasan tentang penggunaan bahasa yang baik dan sesuai dan sebagai penanda untuk mengoreksi interpretasi ungkapan;

l Bahasa selalu memiliki tujuan (misalnya untuk membangun hubungan sosial, membujuk atau berjanji);

l Bahasa melibatkan bahasa otentik dan dipertentangkan dengan bahasa yang dibuat seperti buku teks.

Richards & Rodgers (1989) menemukan butir-butir penting berikut yang merupakan teori yang melandasi pengajaran bahasa.

l Bahasa adalah suatu sistem pengungkapan gagasan;

l Fungsi utama bahasa adalah untuk interaksi dan komunikasi;

l Unit utama bahasa bukanlah semata-mata butir-butir tata bahasa dan strukturnya, melainkan kategori makna fungsi dan makna komunikatif.


Nunan (1991:279) menawarkan 5 ciri khas utama Pembelajaran Bahasa Komunikatif, yaitu:

l Penekanan pada pembelajaran untuk berkomunikasi melalui interaksi dalam bahasa sasaran;

l Pengenalan teks otentik dalam situasi pembelajaran;

l Pemberian kesempatan bagi pelajar untuk berfokus bukan saja pada bahasa tetapi juga pada proses belajar itu sendiri;

l Peningkatan pengalaman pribadi pelajar sendiri sebagai unsur yang memberikan sumbangan terhadap hasil belajar di kelas; dan

l Upaya menghubungkan pembelajaran bahasa di kelas dengan pengaktifan bahasa di luar kelas.

prinsip-prinsip yang dapat dipertimbangkan dalam kegiatan pengajaran bahasa di kelas, antara lain:

l Kegiatan yang melibatkan komunikasi nyata mendorong hasil belajar

l Kegiatan yang di dalamnya adalah penggunaan bahasa untuk melakukan tugas-tugas yang bermakna meningkatkan hasil belajar

l Bahasa yang bermakna bagi pelajar mendukung proses pembelajaran (prinsip kebermaknaan);

l Penggunaan bahasa yang otentik menentukan tingkat kecepatan terbaik terhadap keberhasilan pembelajaran bahasa kedua/asing;

l Penggunaan kerja pasangan atau kerja kelompok dalam situasi komunikatif interaktif;

l Eksplorasi berdasarkan task-based exploration, negosiasi dan pemecahan masalah;

l Penekanan pada inisiatif dan interaksi pelajar, arahan petunjuk bukan semata-mata memperhatikan utang.

Communicative Activities:

1. Using drawing to assess listening comprehension:

l Memberikan instruksi secara lisan kepada peserta untuk menggambar, misalnya: rumah, pemandangan

l Kalau siswa mengerti instruksi yang diberikan secara lisan tersebut, maka menghasislkan gambar yang benar

2. Getting to know the partner

l Dilakukan secara berkelompok,berpasangan, bertiga atau berempat dg berbahasa Inggris

l Masing-masing siswa bertanya kepada temannya tentang sesuatu yang berhubungan dengan keluarga, hobby, dll.

l Kemudian setiap siswa diminta melaporkan di depan kelas apa perbedaan dan persamaan antara ia dan temannya

3.Two vocabulary review

l Kegiatan berkelompok, dimana sebuah kata diberikan kepada masing-masing kelompok, misalnya: “BRIGHT”

l Peserta berikutnya harus menyebutkan pula kata yang berakhiran dengan T, seperti TENDENCY,

l Demikian seterusnya

4. Using Mime

l Setiap kelompok mencari suatu cerita.

l Cerita itu tidak boleh dideskripsikan secara lisan, harus dengan gerakan seperti orang berpantomin

l Kelompok lain memberi komentar dan menebak cerita itu tentang apa yang dipantominkan tadi

5. A trip to Fantasy Island

l Siswa diberikan sebuah peta buta

l Kemudian guru membacakan text descriptive

l Siswa berusaha menemukan tempat di peta sesuai teks lisan yang didengar

6. How good is your memory

l Guru memberikan gambar, siswa diberikan beberapa menit untuk mengamati gambar tersebut

l Kemudian siswa harus menjawab pertanyaan atau menjelaskan isi gambar tersebut

7. Creating sentences from a word box

l Siswa diberikan abjad secara acak

l Kemudian siswa harus membuat kata sebanyak-banyaknya dari huruf tersebut

8. Interview role play

l Seorang siswa berdiri, kemudian menyebutkan profesinya yang akan dipilihnya

l Siswa yang lain bertanya dengan beragam pertanyaan

l kemudian menjelaskan mengapa ia memilihnya dan lain sebagainya

9. What can you remember

l Mengingat apa saja yang dapat diingat dari gambar yang sudah diberikan

l Kemudian mengungkapkan dalam bahasa Inggris

10. Text completion

Diberikan sebuah teks, siswa melengkapi teks tersebut dengan menggunakan imajinasinya

11. Expanding headlines

Sama dengan kegiatan 10, siswa mengembangkan sebuah headline yang sudah diberikan

12. Writing haikus

l Menulis sajak ala jepang yang terdiri dari tiga baris

l Baris pertama terdiri dari 5 suku kata, baris kedua 7 suku kata, dan baris ke ke 3 juga lima suku kata

13. Pictures based writing

l Diberikan sebuah gambar

l Berdasar gambar tersebut, peserta harus membuat cerita secara tertulis

14. Writing E-mail or post card to friends and family

l Latihan membuat berita singkat

l Menulis e-mail atau postcard

15. Co-operative narrative writing

l Sama dengan chain story, atau cerita berantai

l Seseorang membuat kalimat, yang lain melanjutkan dengan satu kalimat lagi dan seterusnya hingga menjadi suatu cerita yang berarti

16. Helping students to develop their own narrative

Ini merupakan kegiatan guided writing yang dipandu secara lisan oleh guru

17. Jokes which use present progressive

Membuat cerita-cerita lucu dengan menggunakan present progressive

18. Body language

Bercerita dengan hanya menggunakan bahasa tubuh, kemudian siswa lain mencoba mendeskripsikan

19. Reading text to stimulate discussion

l Siswa diberikan sebuah teks

l Berdasarka teks tersebut, siswa mendiskusikan isi dari teks tersebut

20. The activities with text type recount

l Terdiri dari dua bagian, pertama guru membacakan tiga buah teks secara acak

l Kemudian mencoba menyusun teks itu sesuai dengan urutan yang benar

l Kemudian membuat teks dengan berpedoman kepada teks yang sudah diberikan

21. Running dictation

22. Jigsaw

23. Empty chair

24. Hot chair

BEBERAPA METODE DALAM PEMBELAJARAN BAHASA

A. Hakikat Metode Pembelajaran Bahasa

Apa sesungguhnya metode itu? Jika kita mencoba memperhatikan berbagai metode yang ada sekarang, pertanyaan yang timbul ialah apakah sesungguhnya metode itu ? Jawaban terhadap pertanyaan ini tampaknya tergantung pada orang yang memberi jawabannya. Ada sebagian yang mengatakan “penentuan bahan yang akan diajarkan”, adapula yang mengatakan “cara-cara penyajian bahan”, dan sebagainya.Yang jelas apa yang dinamakan metode itu mencakup beberapa faktor, yaitu penentuan bahan, penentuan urutan bahan, cara-cara penyajian, dan sebagainya semuanya itu dilandaskan pada suatu sistem tertentu untuk mencapai tujuan tertentu pula. Ada kalanya seorang pengajar perlu menggunakan beberapa metode dalam menyampaikan suatu pokok bahasan tertentu. Dengan variasi beberapa metode selain tidak membosankan, pada suatu saat dapat mengatasi kekurangan pengajar dalam hal-hal tertentu. Tak ada satu metodepun yang dianggap paling baik diantara metode-metode yang lain. Setiap metode mempunyai karateristik tertentu dengan segala kelebihan serta kelemahan masing-masing. Suatu metode mungkin baik untuk suatu tujuan tertentu, pokok bahasan maupun situasi dan kondisi tertentu, tetapi tidak tepat untuk situasi lain. Juga suatu metode yang dianggap baik untuk suatu pokok bahasan tertentu, tetapi ada kalanya belum berhasil dengan baik jika digunakan oleh pengajar lain.

B. Metode Pembelajaran Bahasa Pada dasarnya antara metode pembelajaran bahasa dan metode-metode lain, tak banyak bedanya. Apa yang dimaksud dengan metode pembelajaran bahasa pada hakikatnya adalah apa yang dimaksud oleh tujuan pembelajaran itu sendiri. Semua situasi pembelajaran, apakah baik atau jelek, mencakup beberapa aspek; yaitu, a) pemilihan bahan, b) peningkatan bahan dan c) cara-cara penyajian mated pembelajaran serta cara-cara pengulangan materi tersebut.

a. Pemilihan materi perlu dilakukan, karena tidaklah mungkin membelajarkan semua hal yang tercakup dalam bidang ilmu yang sangat luas itu. Oleh karena itu terpaksa perlu diadakan pemilihan, mana diantaranya yang diajarkan sesuai dengan tujuan pembelujaran yang akan dicapai. Peningkatan dan penentuan urutan pemberian materi secara sekaligus diajarkan. Dalam hal ini terpaksa pembelajaran bagian-bagian tertentu lebih dulu dad bagian-bagian yang lain. Cara-cara penyajian materi perlu dipikirkan karena tak mungkin diajarkan sesuatu dengan hasil baik jika tidak dipikirkan cara-cara penyajian mana yang dapat memperoleh hasil sebagaimana yang diinginkan oleh tujuan yang ingin dicapai. Pengulangan pemberian materi perlu diberikan, karena tak mungkin mempelajari sesuatu keterampilan hanya dari satu contoh. Semua keterampilan akan tergantung pada frekuensi latihan yang diperoleh. . b. Apakah bahasa itu?

Bahasa adalah suatu pengertian yang luas dan kompleks. Bahasa adalah suatu sistem.Pertama adanya sistem bunyi. Sistem bunyi ini kenyataannya membentuk sistem bentuk. Dalam pemakaiannya sistem bentuk membentuk sistem struktur. Akhimya sistem sistem itu membentuk sistem arti. Sistem-sistem ini dianalisis untuk dapat menentukan apa yang harus diajarkan. Analisis itu akan menghasilkan, 1. Adanya bunyi-bunyi bahasa 2. Adanya bunyi-bunyi bahasa yang mempunyai arti. 3. Adanya bentuk-bentuk yang mempunyai arti. 4. Adanyajenis-jenis urutan tertentu jika bentuk-bentuk yang mempunyaim arti itu muncul bersama-sama. 5. Adanya sistem bentuk-bentuk dan pola-pola urutan membentuk unit-unit arti.

Hasil analisis adalah bahan mentah yang akan dijadikan bahan dalam penyusunan metode. Cara-cara penyajian a. Aspek linguistiknya : mana yang harus disajikan lebih dulu, apakah bahasa tertulis atau bahasa lisan. b. Aspek penyajiannya : apakah benda dan situasi yang dipakai sebagai alat bantu adalah benda-benda dan situasi-situasi yang sesungguhnya atau diciptakan kemudian? Apakah gambar-gambar, film, film strip, tape recorder atau gabungannya dipakai sebagai aiat atau sebagai alat bantu? Kapan, dan bagaiman carapenggunaannya.

C. Pengulangan dalam Rangka Pembentukan Keterampilan. Bagaimana cara-cara yang dipakai untuk menumbuhkan kebiasaan berbahasa yang baik? Berapa banyak tugas tugas yang diberikan untuk bercakap-cakap, mendengar, membaca dan mengarang? Kapan dan bagaimana cara melakukannya? Bagaimana cara yang dilakukan untuk mengetahui apa yang telah diajarkannya itu dipahami atau dikuasai oleh pembelajar? Apakah dengan ulangan, tugas-tugas atau dengan cara-cara lain? Bagaimana melakukannya? Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa menerapkan suatu metode sesuai dengan suatu metode sesuai dengan kemampuan berpikir, kemudahan pembelajar menerima materi. dunia guru” adalah “dunia kelas” yang mewajibkan guru untuk melaksanakan proses pembelajaran sebagai proses pendidikan yang diharapkan secara “ajaib” (magically) dapat memanusiakan manusia. Guru juga dituntutharapkan mampu menyajikan proses pembelajaran yang bukan semata transfer pengetahuan, keterampilan, dan sikap, lefapi uga memiliki efek pendamping (nurturing effect) yang tersiraf dalam proses tersebut dan yang meningkatkan kemandirian siswa.

Oleh karena ifu, guru harus sanggup menciptakan kondisi proses pembelajaran yang menjamin kebebasan berpikir siswa sesuai dengan perkembangan talenta; dengan memantapkan delapan kompetensi dasar yang harus dimiliki siswa. Sejalan dengan pemikiran di atas, Kurikulum 1994 Garis-Garis Besar Program Pembelajaran Bahasa Indonesia SLTP Muatan Lokal dirancang sesuai dengan prinsip-prinsip pembelajaran bahasa. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (1 996) pendidkan diartikan sebagai ‘proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakari manusia melalui upaya pengajaran (kini berpadanan dengan ‘pembelajaran’) dan pelatihan’. jika kita mencermati (meIalui pengajaran atau pembelajaran sebagai media atau alat untuk mendewasakan manusia) definisi pendidikan di atas; maka pendidikan menyangkut bukan saja aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap seseorang, tetapi juga meliputi pembentukan diri seseorang secara keseluruhan.

Seperti yang diungkapkan oleh Leksono dalam Drost (1998) bahwa pendidikan, melalui pembelajaran, adalah soal manusia yang akan memaknai masa depan kemanusiaan itu sendiri. Pertanyaan yang bisa diajukan: Siapakah yang harus berperan dan melaksanakan pendidikan? Masih sejalan dengan Leksono, ternyata banyak pihak merasa perlu terlibat dalam persoalan dan pelaksanaan pendidikan. Mulai dari ahli di bidang pendidikan yang memahami persoalan pendidikan hingga ke “tulang sumsumnya”, orang tua yang memang berhak untuk menaruh harapan agar anak-anaknya memperoleh pendidikan yang terbaik, dan tentu saja ‘guru’ yang dalam pelaksanaan proses pendidikan berhubungan Iangsung dengan siswa. “Dunia guru” adalah “dunia ke las yang mengharuskan guru untuk melaksanakan proses pembelajaran sebagai proses pendidikan yang diharapkan secara “ajaib” (magically) dapat memanusiakan manusia. Lebih lanjut, guru juga dituntutharapkan mampu menyajikan proses pembelajaran yang bukan semata transfer pengetahuan, keterampilan, dan sikap, tetapi juga memiliki efek pen- damping (nurturing effect) yang tersirat dalam proses tersebut dan yang meningkatkan kemandirian siswa. Singkat kata, guru adalah fasilitas harapan yang dapat memanusiakan manusia. Dan, karena itu pula, guru harus sanggup menciptakan kondisi proses pembelajaran yang menjamin kebebosan berpkir siswa sesuai dengan perkembangan talenta; dengan memantapkan delapan kompetensi dasar yang harus dimiliki siswa, yaitu:

Membaca, yang perlu dilatihkan untuk memantapkan kemampuan pemikiran kanseptual;

Menulis, melatih siswa untuk cermat dalam merancang jalan pemikiran yang teratur;

Mendengar, melatih siswa untuk mendengar dan memahami orang lain;

Menutur, yaitu berkomunikasi secara lisan;

Menghitung, melatih kemampuan berpikir teratur dan memanfaatkan nalar;

Mengamati, yaitu menggunakan indera secara ferpadu;

Mengkhayal, yaitu melatih daya cipta dan visualisasi; serta

Menghayati, yaitu melatih kemampuan menempatkan din pada kedudukan arang lain (Sudarsono dalam Hadis, 1999:12).

D. Metode Ceramah dalam Pembelajaran

Yang dimaksud dengan ceramah ialah penerangan dan penuturan secara lisan. Dalam pelaksanaan ceramah untuk menjelaskan uraiannya, pengajar dapat menggunakan alat bantuseperti gambar-gambar. Tetapi metode utama, berhubungan antara pengajar dengan pembelajar ialah berbicara. Peranan dalam metode ceramah adalah mendengarkan dengan teliti dan mencatat pokok-pokok penting yang dikemukakan oleh pengajar. Ceramah wajar dipergunakan 1. Kalau pengajar akan menyampaikan fakta (kenyataan) atau pendapat dan tidak, terdapat bahan bacaan yang merangkum fakta atau pendapat yang dimaksud. 2. Kalau pengajar harus menyampaikan fakta kepada pembelajar yang besar jumlahnya atau karena besarnya kelompok pendengar sehingga metode-metode yang lain tidak mungkin dapat dipergunakan. 3. Kalau pengajar adalah pembicara yang bersemangat dan akanrnerangsang pembelajar untuk melaksanakan sesuatu pekerjaan. Dalam metode Ceramah Organisasi kelas sederhana Dengan ceramah, persiapan satu-satunya bagi pengajar adalah buku catatanya. Pada seluruh jam pelajaran ia berbicara sambil berdiri atau kadang-kadang duduk. Cara ini paling sederhana dalam pengaturan kelas, jika dibandingkan dengan metode demonstrasi di mana pengajar harus membagi kelas ke dalam beberapa kelompok, ia harus merubah posisi kelas dan sebagainya.

a. Kelemahan metode ceramah 1. Pengajar tak dapat mengetahui sampai di mana pembelajar telah mengerti pembicaraannya.Kadang-kadang pengajar beranggapan bahwa bila pembelajar duduk diam mendengarkan atau sambil mengangguk-anggukkan kepala, berarti pembelajar telah mengerti. Padahal anggapan tersebut sering meleset; walaupun, pembelajar menunjukkan reaksi seolah-olah mengerti, akan tetapi pengajar tidak mengetahui sejauh mana penguasaan pembelajar terhadap pelajaran itu. Oleh karena itu segera setelah ia berceramah, harus diadakan evaluasi, misalnya dengan tanyajawab 2. Kata-kata yang diucapkan pengajar, ditafsirkan lain oleh pembelajar. Dapat terjadi bahwa pembelajar niemberikan pengertian yang berlainan dengan apa yang dimaksud oleh pengajar. Kiranya perlu kita sadari bahwa tidak ada arti yang mutlak bagi setiap kata tertentu.Kata kata yang diucapkan hanyalah bunyi yang disetujui penggunaanya dalam suatu masyarakat untuk mewakili suatu pengertian. Misalnya: kata modul, bagi mahasiswa UT, pengertiannya adalah salah satu bentuk bahan belajar yang berujud buku materi pokok.Sedangkan bagi-para astronot, modul diartikan sebagai salah satu komponen dari pesawat luar angkasa. Itulah sebabnya maka setiap anak harus membentuk perbendaharaan bahasanya berdasarkan pengalaman hidupnya sehari-hari. Selama ada persamaan pendapat antar pembicara dengar pendengar untuk mengerti maksud pembicara. Bila pengajar menggunakan kata-kata yang abstrak seperti “kepribadian”, “kesusialaan”, “keadilan”, mungkin bagi setiap anak pengertiannya tidak sama atau sangat kabur untuk mengartikan kata-kata itu. Lebih-lebih lagi bila kata-kata itu dirangkaikan dalam suatu kalimat, akan semakin banyaklah kemungkinan salah tafsir arti pembicaraan pengajar. Itulah sebabnya seringkali pembelajar sama sekali tidak sapat memperoleh pengertian apapun dari pembicaraan pengajar. Maka bila pengajar ingin menjelaskan sesuatu yang kiranya masih asing bagi anak, pengajar dapat menyertakan peragaan dalam ceramahnya. Peragaan tersebut dapat berbentuk benda yang sesungguhnya, model-model dari benda, menggambarkan dengan bagan atau diagram di papan tulis.

b. Batas batas kemungkinan metode ceramah

a. Pengajar tidak dapat mengetahui sampai di mana murid telah mengerti (memahami) yang telah dibicarakan.

b. Pada pembelajar dapat terbentuk konsep yang lain dari pada kata-kata yang dimaksudkan oleh pengajar tersebut.

c. Bagaimana mempersiapakan ceramah yang berdaya guna?

Langkah-langkah di bawah ini pada umumnya merupakan langkah yang dapat mempertinggi hasil metode ceramah.

a. Rumuskan tujuan khusus yang hendak dipelajari oleh pembelajar.

b. Setelah menetapkan tujuan, hendaklah diselidiki apakah .metode ceramah benar-benar merupakan metode yang sangat pada tempatnya.

c. Susuanan bahan ceramah yang benar-benar perlu diceramahkan.

d. Pengertian yang dapat dijelaskan dengan alat atau dengan uraian yang tertentu harus ditetapkan sebelumnya.

e. Tangkaplah perhatian siswa dan arahkan pada pokok yang akan diceramahkan.

f. Kemudian usahakan menanam pengertian yang jelas. Hal ini biasa dilaksanakan dengan melalui beberapa jalan misalnya : Pertama, pengajar memberikan ikhtisar ringkas mengenai pokok-pokok yang akan diuraikan. Kedua, pengajar menguraikan pokok tersebut dan akhirnya menyimpulakan pokok-pokok penting dalam pembicaraan itu.

g. Adakan rencana penilaian. Teknik evaluasi yang wajar digunakan untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan-tujuan khusus itu perlu ditetapkan.

E. Metode Diskusi dalam Pembelajaran

Metode diskusi ialah suatu cara penyampaian bahan pelajaran dan guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternatif pemecahan masalah. Dalam kehidupan modern ini banyak sekali masalah yang dihadapi oleh manusia; sedemikian kompieksnya masalah tersebut sehingga tak mungkin hanya dipecahkan dengan satu jawaban saja. tetapi kita harus menggunakan segala pengetahuan kita untuk memberi pemecahan yang terbaik. Ada kemungkinan terdapat lebih-dari satu jawaban yang benar sehingga harus menemukan jawaban yang paling tepat di antara sekian banyak jawaban tersebut. Kecakapan untuk memecahkan masalah dapat dipelajari.-Untuk iru siswa harus dilatih sejak kecil. Persoalan yang kompleks sering kita jumpai dalam kehidupan bermasyarakat, karenanya dibutuhkan pemecahan atas dasar kerjasama. Dalam hal ini diskusi merupakanjalan yang banyak memberi kemungkinan pemecahan terbaik. Selain memberi kesempatan untuk mengembangkan ketrampilan memecahkan masalah, juga dalam kehidupan yang demokratis kita diajak untuk hidup bermusyawarah, mencari keputusan-keputusan atas dasar persetujuan bersama. Bagi anak-anak, latihan untuk peranan peserta dalam kehidupan di masyarakat.

a. Penggunaan Metode Diskusi Seperti telah disinggung sekilas, bahwa metode tanya jawab dengan diskusi saling mencakup tetapi berbeda. Ada pertanyaan yang mengandung unsur diskusi, tetapi ada yang tidak. Dengan diskusi guru berusaha mengajak siswa untuk memecahkan masalah. Untuk pemecahan suatu masalah diperlukan pendapat-pendapat berdasarkan pengetahuan yang ada, dengan sendirinya kemungkinan terdapat lebih dari satu jawaban, malah mungkin terdapat banyak jawaban yang benar. agar mendapatkan gambaran yang jelas, marilah kita perhatikan contoh pertanyaan-pertanyaan berikut ini :

1. Bilamanakah bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa kesatuan di negara kita ?

2. Mengapa peserta Sipenraaru maupun PMDK pada tahun ini menurun?

3. Apakah siaran teievisi sebaiknya d’iurus oleh Pemerintah, atau swasta ataukah sebagian pemerintah sebagian swasta?

4. Mengapa burung hantu tidak berdaya pada waktu siang?

5. Siapakah di antara kalian yang setuju diadakan ulangan secara mendadak?

6. Beberapa orang guru mengeluh bahwa daya tampung di sekolah mereka sangat berbatas. Jalan keluar apakah yang kiranya dapat ditempuh untuk mengatasi keadaan itu?

7. Bentuk acara yang bagaimanakah yang akan kamu pilih untuk memperingati hari kemerdekaan di sekolah kita?

8. Berapakah perbandingan antara angka kelahiran dan kematian penduduk dunia pada saat lahirnya bayi yang ke-5 milyar?

9. Mengapa pada saat ini banyak remaja laki-laki yang memakai perhiasan?

10.Jalan apakah yang dapat ditempuh untuk mengurangi penderitaan rakyat di Afrika Selatan?

Perhatikanlah sifat-sifat pertanyaan di atas. Pertanyaan no. 1,4 dan 8 memerlukan jawaban berfakta, jadi pertanyaan tersebut bukan diskusi melainkan tanya-jawab. Pertanyaan no. 5 hanya memerlukan pemungutan suara, tidak akan menjadi diskusi bila guru tidak meminta pendirian serta alasan siswa. Nomor 3 dan 9 meminta pertimbangan tentang fakta-fakta, maka diskusi menjadi hidup, karena akan muncul berbagai pandangan yang dapat dibenarkan. Sedangkan nomor 6, 7 dan 10 membutuhkan rencana bertindak dari pihak siswa, dan mengandung kemungkinan jawaban lebih dari satu. Pertanyaan-pertanyaan yang baik untuk metode diskusi : 1) Menguji kemungkinan jawaban yang dapat dipertahankan lebih dari sebuah. 2) Tidak menanyakan “Manakah jawaban yang benar” tetapi lebih menekankan kepada “mempertimbangkan dan-membandingkan”. Misalnya : Manakah kiranya yang paling baik. pemecahan mana yang mungkin lebih berhasil. manakah yang akan lebih memberikan manfaat. 3) menarik minat anak dan sesuai dengan taraf kemampuan/umurnya.

b. Peranan Guru atau Pemimpin Diskusi Kemungkinan-kemungkinan jawaban yang bagajmana yang dapat dirumuskan oleh kelas terhadap suatu masalah ? Selama diskusi pemimpin atau guru kelas melihat adanya sejumlah jawaban yang mungkin, kemudian memilih jawaban yang dianggap merupakan jawaban yang setepat tepatnya. Hal manakah yang telah diterima oleh suara terbanyak sebagai persetujuan? Tindakan apakah yang sudali direncanakan ? Siapa yang melaksanakan, dan bilamana ? Kebaikan Metode Diskusi 1) Siswa belajar bermusyawarah 2) Siswa mendapat kesempatan untuk menguji tingkat pengetahuan masing-masing 3) Belajar menghargai pendapat orang lain . 4) Mengembangkan cara berpikir dan sikap ilmiah Kekurangan/Kelemah an Metode Diskusi 1) Pendapat serta pertanyaan siswa dapat menyimpang dari poko persoalan. 2) Kesulitan dalam menyimpulkan sering menyebabkan tidak ada penyelesaian. 3) Membutuhkan waktu cukup banyak.

c. Jenis-jenis Diskusi 1) Buzz Group Suatu kelas yang besar dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil 4 atau 5 orang. Tempat duduk diatur sedemikian rupa sehingga siswa saling berhadapan untuk memudahkan pertukaran pendapat. Diskusi ini dapat diadkan di tengah-tengah atau akhi 2) Fish Rowt Diskusi terdiri dari beberapa orang peserta yang dipimpin oleh seorang ketua. Tcmpat duduk diatur setengah lingkaran dengan dua atau tiga kursi kosonu menghadap peserta, seolah-olah menjaring ikan dalam sebuah mangkuk (fish boxvli. Kelompok pendengar yang ingin menyumbangkan pikiran dapat duduk di kursi kosong tersebut. Ketua mempersilahkan berbicara dan setelah selesai kembali ketempat semula. 3) Whole Group Suatu kelas merupakan satu kelompok diskusi dengan jurnlah anggota tidak lebih dari 15 anggota. 4) Syndicate group Suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil yang terdiri dari 3-6 orang. Gurumenjelaskan garis besar masalah dengan aspek-aspeknya. kemudian tiap kelompok bertugas membahas suatu aspek tertentu dan membuat kesimpuian untuk diiaporkan dalam sidang pleno serta didiskusikan lebih lanjut. 5) Brainstorming Merupakan suatu diskusi di mana anggota kelompok bebas menyumbangkan ide-ide baru terhadap suatu masalah tertentu. di bawah seorang ketua. Semua ide >ang sudah masuk dicatat. untuk kemudian diklasifikasikan menurut suatu urutan tertentu. Suatu saat mungkin ada diantara ide baru tersebut yang dirasa menarik untuk dikembangkan. 6) Informal debate Kelas dibagi menjadi dua team yang agak sama besarnya unluk memperdebatkan suatu bahan yang problematis, tanpa memperhatikan peraturan diskusi panel. 7) Colloqinin Merupukan suatu kegiatan dimana siswa’mahasiawa dihadapkan pada narasumber untuk mengajukan pertanyaan. selanjuinya mengandung perianyaan-penanyaan tambahan dari siswa. mahasiswa yang lain. Pelajaran dengan maksud untuk memperjelas bahan pelajaran yang telah diterima Pemimpin diskusi dapat dipegang oleh guru sendiri, tetapi dapat juga diserahkan kepada siswa bila guru ingin memberi kesempatan kepada siswa unluk belajar memimpin.Kecakapan memimpin diskusi memang harus dilatih, bila kita menginginkan keberhasilan suatu diskusi. Seseorang .yang belum berpengalaman memimpin diskusi, suatu saat dapat menjadi kebingungan apabila terjadi pembicaraan yang jauh menyimpang dari pokok persoalan, Dapat pula terjadi. seseorang yang senang berbicara akan menguasai seluruh pembicaraan sehingga tidak memberi kesempatan kepada teman yang lain untuk Tnengemukakan pendapat.Demikian pula diantara peserta diskusi saling bertentangan pendapatnya, bagi pemimpin yang belum trampil, tidak dapat mencarikan jalan tengah sehingga seringkali diskusi berakhir lanpa adanya suatu kesimpulan yang jelas. Bila siswa belum pernah mengenal lata cara diskusi, rnereka akan berbicara secara serempak atau spontan menanggapi bila ada suatau pendapat yang menarik. Juga sering terjadi beberapa siswa belum memahami persoalan .sehingga memberikan komentar yang menyimpang dan berkepanjangan. Akibat suasana menjemukan dan tidak dapat-melihat kemajuan-kemajuan apa yang telah dicapai. Pemimpin diskusi yang baik, akan sanggup dengan cepat mengambil tindakan menghadapi ketimpangan-ketimpangan tersebut diatas. Untuk itulah para siswa perlu dilatih untuk memperoleh ketrampilan pemimpin yang pada hakikatnya dapat dipelajari. Prof. DR. Winarno Surakhmad dalam bukunya “Metodologi Guruan Nasional” mengemukakan tiga peranan pemimpin diskusi ialah sebagai (1) pengatur lalu lintas, (2) dinding penangkis, dan (3) penunjuk jalan Pemimpin sebagai pengatur lalu lintas Sebagai seorang pemimpin. la berhak untuk : - Menunjukkan pertanyaan-pertanyaan kepada anggota - Menjaga agar tidak semua anggota bicara secara serempak - Mencegah dikuasai’nya pembicaraan oleh orang-orang tertentu yang gemar berbicara - Membuka kesempatan bagi anggota yang pemalu atau pendiam untuk menyumbangkan ide-ide mereka - Mengatur sedemikian sehingga setiap pembicaraan dapat ditangkap dengan jelas oleh pendengar. Dari peran tersebut, dapat kita lihat bahwa pemimpin akan belajar memahami sifat-sifat para peserta. la akan belajar bagaimana mendorong si pendiam untuk ikut serta dan bagaimana mencegah anggota yang senang berbicara dan membuka kesempatan bagi anggota lain secara merata. Untuk membatasi orang yang senang berbicara, misalnya dapat dikatakan :“Baik. saya rasa pendapat anda itu telah dituangkan dengan jelas, coba mari kita lihat beberapa pendapat yang lain”. Atau kepada si pendiam :

Langkah-langkah Model Pembelajaran Inovatif

A. Model Examples Non Examples
Contoh dapat dari Kasus/Gambar yang Relevan dengan Kompetensi Dasar
Langkah-langkah :

1. Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran
2. Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui OHP/In Focus
3. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk memperhatikan/menganalisa gambar
4. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas
5. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya
6. Mulai dari komentar/hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai
7. Kesimpulan

B. Picture And Picture
Langkah-langkah :

1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
2. Menyajikan materi sebagai pengantar
3. Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi
4. Guru menunjuk/memanggil siswa secara bergantian memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis
5. Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut
6. Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai
7. Kesimpulan/rangkuman

C. Numbered Heads Together
Langkah-langkah :

1. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor
2. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya
3. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya/mengetahui jawabannya
4. Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka
5. Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain
6. Kesimpulan

D. Cooperative Script
Metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan bergantian secara lisan mengikhtisarkan, bagian-bagian dari materi yang dipelajari

Langkah-langkah :
1. Guru membagi siswa untuk berpasangan
2. Guru membagikan wacana/materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan
3. Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar
4. Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya. Sementara pendengar : (a) Menyimak/mengoreksi/menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap; (b) Membantu mengingat/menghafal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya
5. Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya. Serta lakukan seperti diatas.
6. Kesimpulan Siswa bersama-sama dengan guru
7. Penutup

E. Kepala Bernomor Struktur
Langkah-langkah :

1. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor
2. Penugasan diberikan kepada setiap siswa berdasarkan nomorkan terhadap tugas yang berangkai. Misalnya : siswa nomor satu bertugas mencatat soal. Siswa nomor dua mengerjakan soal dan siswa nomor tiga melaporkan hasil pekerjaan dan seterusnya
3. Jika perlu, guru bisa menyuruh kerja sama antar kelompok. Siswa disuruh keluar dari kelompoknya dan bergabung bersama beberapa siswa bernomor sama dari kelompok lain. Dalam kesempatan ini siswa dengan tugas yang sama bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerja sama mereka
4. Laporkan hasil dan tanggapan dari kelompok yang lain
5. Kesimpulan

F. Student Teams-Achievement Divisions (Stad)/Tim Siswa Kelompok Prestasi (Slavin, 1995)
Langkah-langkah :

1. Membentuk kelompok yang anggotanya = 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dll)
2. Guru menyajikan pelajaran
3. Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Anggotanya tahu menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
4. Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu
5. Memberi evaluasi
6. Kesimpulan

G. Jigsaw (Model Tim Ahli)/(Aronson, Blaney, Stephen, Sikes, And Snapp, 1978)
Langkah-langkah :

1. Siswa dikelompokkan ke dalam 4 anggota tim
2. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda
3. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan
4. Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka
5. Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh
6. Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi
7. Guru memberi evaluasi
8. Penutup

H. Problem Based Introductuon (PBI)/(Pembelajaran Berdasarkan Masalah)
Langkah-langkah :

1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Menjelaskan logistik yang dibutuhkan. Memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
2. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll.)
3. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah.
4. Guru membantu siswa dalam merencanakan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya
5. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan

I. Artikulasi
Langkah-langkah :

1. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
2. Guru menyajikan materi sebagaimana biasa
3. Untuk mengetahui daya serap siswa, bentuklah kelompok berpasangan dua orang
4. Suruhlan seorang dari pasangan itu menceritakan materi yang baru diterima dari guru dan pasangannya mendengar sambil membuat catatan-catatan kecil, kemudian berganti peran. Begitu juga kelompok lainnya
5. Suruh siswa secara bergiliran/diacak menyampaikan hasil wawancaranya dengan teman pasangannya. Sampai sebagian siswa sudah menyampaikan hasil wawancaranya
6. Guru mengulangi/menjelaskan kembali materi yang sekiranya belum dipahami siswa
7. Kesimpulan/penutup

J. Mind Mapping
Sangat baik digunakan untuk pengetahuan awal siswa atau untuk menemukan alternatif jawaban
Langkah-langkah :

1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
2. Guru mengemukakan konsep/permasalahan yang akan ditanggapi oleh siswa/sebaiknya permasalahan yang mempunyai alternatif jawaban
3. Membentuk kelompok yang anggotanya 2-3 orang
4. Tiap kelompok menginventarisasi/mencatat alternatif jawaban hasil diskusi
5. Tiap kelompok (atau diacak kelompok tertentu) membaca hasil diskusinya dan guru mencatat di papan dan mengelompokkan sesuai kebutuhan guru
6. Dari data-data di papan siswa diminta membuat kesimpulan atau guru memberi bandingan sesuai konsep yang disediakan guru

K. Make – A Match (Mencari Pasangan) (Lorna Curran, 1994)
Langkah-langkah :

1. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban
2. Setiap siswa mendapat satu buah kartu
3. Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang
4. Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban)
5. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin
6. Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya
7. Demikian seterusnya
8. Kesimpulan/penutup

L. Think Pair And Share (Frank Lyman, 1985)
Langkah-langkah :

1. Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin dicapai
2. Siswa diminta untuk berfikir tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru
3. Siswa diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (kelompok 2 orang) dan mengutarakan hasil pemikiran masing-masing
4. Guru memimpin pleno kecil diskusi, tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya
5. Berawal dari kegiatan tersebutmengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diuangkapkan para siswa
6. Guru memberi kesimpulan
7. Penutup

M. Debat
Langkah-langkah:

1. Guru membagi 2 kelompok peserta debat yang satu pro dan yg lainnya kontra
2. Guru memberikan tugas untuk membaca materiyang akan didebatkan oleh kedua kelompok diatas
3. Setelah selesai membaca materi. Guru menunjuk salah satu anggotanya kelompok pro untuk berbicara saat itu ditanggapi atau dibalas oleh kelompok kontra demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa bisa mengemukakan pendapatnya.
4. Sementara siswa menyampaikan gagasannya guru menulis guru menulis inti/ide-ide dari setiap pembicaraan di papan tulis. Sampai sejumlah ide yang diharapkan guru terpenuhi
5. Guru menambahkan konsep/ide yang belum terungkap
6. Dari data-data di papan tersebut, guru mengajak siswa membuat kesimpulan/rangkuman yang mengacu pada topik yang ingin dicapai.

Sumber : Bahan Pelatihan LPMP Jawa Barat

DASAR-DASAR BERMAIN DRAMA

I.   PENDAHULUAN Drama adalah kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas dengan media  percakapan(dialog), gerak da...