Translate

Tampilkan postingan dengan label penelitian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penelitian. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 September 2013

CONTOH JUDUL PENELITIAN TINDAKAN KELAS



NO
JUDUL
1
Peningkatan Kemampuan Operasi Hitung Bilangan Bulat Permulaan dengan menggunakan Media Mistar Bergambar Siswa Kelas VI SDN Simomulyo VII Surabaya
2
Peningkatan Hasil Belajar Matematika  Sifat-sifat Operasi Hitung Bilangan  Teknik Pemberian Tugas
3
Penggunaan Media Gambar Seri Untuk Meningkatkan Kemampuan Mengarang  Siswa Kelas III SDN Kedung Sumur I Krembung Sidoarjo
4
Peningkatan  Kemampuan Membaca Intensif  Dengan menggunakan Teknik PQ4R Pada Siswa Kelas IV SDN Kalirejo III BJN
5
Peningkatan Kemampuan Mengklasifikasi Jenis-jenis Lingkungan Melalui Model TANDUR (PAKEM) Pada Mata Pelajaran IPS Kelas IV SDN Terung Wetan Krian Sidoarjo
6
Peningkatan Kemampuan Operasi Hitung (Penjumlahan dan Pengurangan) Melalui Penggunaan Media Permainan Ular Tangga Pada Siswa Kelas I SDN Kepohagung II Plumpang Tuban
7
Peningkatan  Kemampuan Mengidentifikasi Sifat –sifat Benda Cair Melalui Penggunaan Model Inkuiri di Kelas IV SDN JAtikalang I Sidoarjo
8
Peningkatan Kemampuan Membedakan Penulisan di dan ke Sebagai kata Depan Serta di- dan ke- sebagai imbuhan Melalui Strategi Card Sort (Sortir Kartu) MP BI Di Kelas VI SDN Kandangan II Surabaya
9
Penggunaan Alat Peraga 2D Untuk Meningkatkan Kemampuan Mengenal Bangun Datar  di Kelas I SDN Tegalsari I Widang Tuban
10
Meningkatkan Kemampuan Berbicara Siswa Menggunakan  Metode Role Playing Pada Mata Pelajaran BI di Kelas IV SDN Cepokorejo 01 Palang Tuban
11
Meningkatkan Kemampuan Operasi Bilangan Pecahan Menggunakan Benda-benda Konkrit Pada Mata Pelajaran Matematika Kelas IV SDN Mrutuk II Widang Tuban

12
Peningkatan Kemampuan Menghitung Luas Permukaan Bangun Ruang Menggunakan Alat Peraga Jaring-jaring Pada Mata Pelajaran Matematika di Kelas VI SDN Sidokare I Sidoarjo
13
Peningkatan Kemampuan Operasi Hitung Perkalian Menggunakan Jarimatika di Kelas III SDN Pajeng I Gondang Bojonegoro
14
Penggunaan Lingkungan Sekitar sebagai Sumber Belajar Untuk Meningkatkan  Kemampuan Mendiskripsikan Struktur Penampang Daun Pada Mata Pelajaran IPA di Kelas III SDN Bungurasih Waru Sidoarjo
15
Pemanfaatan Media Gambar Seri Untuk Meningkatkan Kemampuan Bercerita Siswa Kelas III SDN Lidah Kulon IV/467 Surabaya.
16
Meningkatkan Kemampuan Menentukan Sifat-sifat Bangun Ruang Menggunakan Alat Peraga 3D Pada Mata Pelajaran Matematika di Kelas IV SDN Wedoro II Sugihwaras Bojonegoro
17
Pemanfaatan Alat Peraga Benda Konkrit Untuk Meningkatkan Kemampuan Mengidentifikasi Pengaruh Bentuk dan Ukuran Terhadap Gerak Benda di Kelas III SDN Bumiayu Baureno BJN
18
Meningkatkan Kemampuan Menentukan Akar Pangkat Tiga Menggunakan Teknik Tabel di Kelas VI SDN Sidongadi I Kerek Tuban
19
Meningkatkan Kemampuan Mendeskripsikan Pengamalan Nilai-nilai Sumpah Pemuda Dalam Kehidupan Sehari-hari Menggunakan Model Kooperatif Tipe Numbered Head Together di Kelas III SDN Margomulyo I Kerek Tuban
20
Meningkatkan Kemampuan Menjumlahkan Bilangan Pecahan Menggunakan Media Garis Bilangan  Pada Mata Pelajaran Matematika Kelas IV SDN Sooko II Mojokerto
21
Peningkatan Kemampuan Mengurutkan Bilangan Dengan Menggunakan Media Kartu Bilangan Pada Siswa Kelas SDN Plumpit III Tuban
22
Penggunaan Teknik Jarimatika Untuk Meningkatkan Kemampuan Operasi Hitung Penjumlahan dan Pengurangan sampai 20 Pada Siswa Kelas I SDN Balongbendo I Sidoarjo
23
Pemanfaatan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Untuk Meningkatkan Kemampuan Mengklasifikasi Sumber Daya Alam pada Mata Pelajaran IPS di Kelas IV SDN Krian III Sidoarjo
24
Peningkatan Kemampuan Memahami Letak Negara-negara di Benua Asia Menggunakan Media Peta Pada Mata Pelajaran IPS Kelas VI SDN Barengkrajan II Krian Sidoarjo
25
Pemanfaatan Media Konkrit Untuk Meningkatkan Kemampuan Memahami Perbedaan Struktur Bahan Pada Mata Pelajaran IPA Kelas V SDK Gloria I Surabaya
26
Pemanfaatan Alat Peraga Kartu Penjumlahan Berpola Untuk meningkatkan Kemampuan Berhitung Siswa Kelas IV SDN Kebonsari II/412 Surabaya
27
Penerapan Pembelajaran Terpadu Model Webed Untuk Meningkatkan Kemampuan Memecahkan Soal Cerita Matematika Siswa Kelas III SDN Sambongrejo I Semanding Tuban.
28
Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Untuk Meningkatkan Kemampuan Membuat Bagan Struktur Pemerintahan Pusat pada MP PKN Kelas IV SDN Babad II Kedungadem BJN
29
Pemanfaatan Peraga Kelereng Untuk Meningkatkan Kemampuan Operasi Hitung Campuran di Kelas II SDK Karitas III Surabaya
30
Pemanfaatan Alat Peraga Balok                Untuk Meningkatkan Kemampuan Menentukan Volume Bangun Ruang di Kelas VI SDN Sukomanunggal Surabaya
31
Pemanfaatan Modifikasi Syair Lagu Untuk Meningkatkan Kemampuan Menghitung Volume Bangun Ruang MP Matematika Kelas VI SDN Gamongan Bjn
32
Pemanfaatan Platisin Untuk Meningkatkan Kemampuan Mengubah Bentuk Suatu Benda Pada MP Sain di Kelas IV SDN Lemah Putro I Sidoarjo
33
Meningkatkan Kemampuan Memahami Proses Fotosintesis Melalui Model Pembelajaran Inkuiri di Kelas V SDN Kedurus III Surabaya.
34
Penggunaan Media Gambar Untuk Meningkatkan Pemahaman Peran Tokoh Nasional Dalam Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia MP IPS Kelas V SDN Dasin II Tambakboyo Tuban

Senin, 22 September 2008

Studi Pemanfaatan Permainan Sebagai Dasar Pengembangan Seni Drama di SD

A. Judul Penelitian : 
STUDI PEMANFAATAN PERMAINAN SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN SENI DRAMA DI SEKOLAH DASAR BAGI MAHASISWA PGSD FIP UNESA SURABAYA 

B. Bidang Ilmu : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Pendidikan Seni Drama dan Tari. Pendahuluan Pembelajaran seni drama di sekolah dasar, baik sebagai mata pelajaran tersendiri sebagai muatan lokal maupun sebagai bagian dari mata pelajaran Bahasa Indonesia perlu mendapatkan penanganan yang lebih serius. Penanganan tersebut selain berkaitan dengan metodologis juga pembekalan keterampilan bagi guru, dan pemanfaatan model-model serta teknik-teknik tertentu yang relevan dengan pembelajaran seni drama. Hasil survey awal di berbagai SD di wilayah Surabaya, diketahui bahwa pembelajaran seni drama di berbagai sekolah dasar di wilayah Surabaya sebagai bagian dari pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia belum dilaksanakan secara memadai. Faktor penyebab utamanya adalah: kurangnya kemampuan dan kecakapan guru. Sedangkan pembelajaran seni drama yang masuk sebagai kegiatan ekstra kurikuler umumnya sudah berjalan dengan baik karena dibimbing oleh instruktur atau pelatih yang memang memiliki latar belakang pendidikan seni drama atau dari sanggar-sanggar teater. Faktor penyebab utama kurangnya kemampuan guru dalam pembelajaran seni drama seperti tersebut di atas perlu mendapatkan perhatian yang memadai dari institusi pendidikan yang menelorkan guru-guru sekolah dasar, khususnya PGSD. Mata kuliah yang yang mengampu pembelajaran seni drama, yaitu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, serta Pendidikan Seni Drama dan Tari, perlu direkonstruksi ulang agar dapat memberikan bekal kemampuan dan keterampilan yang lebih baik terhadap mahasiswa. Salah satu upayanya adalah dengan jalan mengubah persentase pemberian materi perkuliahan dengan memperbanyak lagi praktek-praktek, baik secara intra kurikuler, ko-kurikuler maupun melibatkan mahasiswa untuk mengikuti ekstra kurikuler Teater. Uraian-uraian di atas menunjukkan bahwa perlu adanya upaya memberikan bekal praktis terhadap mahasiswa PGSD sebagai calon guru SD, untuk lebih mengembangkan kreativitasnya dalam mengelola pembelajaran seni drama. Salah satu kegiatan yang ditawarkan pada penelitian ini adalah dengan memanfaatkan permainan sebagai dasar pengembangannya. Penelitian ini lebih memusatkan pada upaya pembelajaran yang berpusat pada anak, dengan memanfaatkan berbagai jenis permainan. Selain dalam bentuk asimilasi dan adaptasi permainan, tetapi juga dimungkinkan dapat dimunculkan pengembangan bentuk permainan baru yang lebih dapat diterima, baik dari sisi edukatif, sosial & budaya, moral, dan yang lebih penting dapat membawa siswa ke arah pengembangan diri secara optimal sebagaimana yang diamanatkan oleh tujuan kurikulum pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia serta Kurikulum Pendidikan Seni Drama dan Tari. Pengembangan-pengembangan yang direncanakan pada penelitian ini terdiri atas: pengembangan bentuk dan isi permainan, asimilasi permainan, adaptasi permainan, serta metodologisnya. Muara dari keseluruhan kegiatan ini, mahasiswa akan dibekali dengan model-model pembelajaran, metode, dan teknik kepelatihan agar dapat melaksanakan pembelajaran seni drama secara praktis, serta dapat mengaplikasikannya sesuai dengan karakteristik pembelajaran seni drama. 

C. Perumusan Masalah 
Berdasarkan uraian-uraian sebagaimana dikemukakan pada pendahuluan, dapat dirumuskan masalah-masalah sebagai berikut: 1. Kendala-kendala apa sajakah yang terjadi pada pembelajaran seni drama di PGSD? 2. Bagaimanakah pembelajaran seni drama dilaksanakan di PGSD? 3. Jenis-jenis permainan anak manakah yang dapat dipakai sebagai dasar pembentukan model pembelajaran drama? 4. Bagaimanakah merancang pengembangan model yang sesuai dengan karakteristik dunia anak? 5. Bagaimanakah model-model pembelajaran dengan memanfaatkan permainan anak tersebut dapat dilaksanakan? 

D. Tujuan Penelitian: 
1. Mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran seni drama di sekolah dasar. 
2. Mengidentifikasi kendala-kendala dalam pembelajaran seni drama di sekolah dasar. 
3. Mengidentifikasi jenis-jenis permainan yang dapat dipakai sebagai dasar pembentukan model pembelajaran seni drama. 
4. Menemukan model permainan dalam pembelajaran seni drama di sekolah dasar yang sesuai dengan karakteristik dunia anak. 

E. Kontribusi Penelitian: 
1. Bagi Mahasiswa Hasil penelitian ini diharapkan dapat membekali mahasiswa sebagai guru sekolah dasar, dalam melaksanakan pembelajaran seni drama, baik melalui pembelajaran Bahasa Indonesia, maupun sebagai pelajaran muatan lokal, maupun kegiatan ekstra kurikuler. 
2. Bagi Peneliti Hasil penelitian ini nantinya diharapkan dapat memperluas cakrawala berpikir, sehingga akan mendorong kreativitas yang baru dalam rangka membantu pendidik (guru sekolah dasar) dalam mendesain pembelajaran seni drama di SD secara memadai. Hasil penelitian ini nantinya diharapkan juga dapat dipakai pijakan untuk mendesain model-model pembelajaran yang lain, sehingga akan memperkaya khasanah pembelajaran seni drama di sekolah dasar. 
3. Bagi Guru Sekolah Dasar Penelitian ini merupakan langkah untuk memperbaiki pola dan teknik pembelajaran tradisional yang lazim dilaksanakan di sekolah dasar. Hasil penelitian tentang pembelajaran drama di sekolah dasar ini diharapkan dapat memberikan penyegaran terhadap guru sekolah dasar tentang bagaimana seyogyanya pembelajaran drama dilaksanakan. 
4. Bagi Peneliti Lain Hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai acuan bagi peneliti lain untuk mengembangkan penelitian-penelitian sejenis, sehingga akan diperoleh berbagai macam model pembelajaran. Model-model tersebut muaranya akan dapat dipakai sebagai alternatif pembelajaran sesuai dengan perkembangan zaman. 
5. Bagi Instansi terkait Penelitian ini merupakan masukan yang berharga guna dipakai sebagai pertimbangan dalam menyusun kebijakan-kebijakan di sekolah dasar, khususnya yang bersangkut paut dengan pengembangan profesionalisasi guru SD. 

F. Tinjauan Pustaka: 

1. Pembelajaran Sastra Anak. 
Melalui pembelajaran sastra mencerdaskan siswa, memperkaya pengalaman batin, dan memanusiawikan manusia. Pembelajaran sastra pada umumnya dan pembelajaran drama pada khususnya mengemban misi afektif, yaitu memperkaya pengalaman siswa dan menjadikannya (lebih) tanggap terhadap peristiwa-peristiwa di sekelilingnya. Tujuan akhirnya adalah menanam, menumbuhkan, dan mengembangkan kepekaan kepekaan terhadap masalah-masalah manusaiwi, pengenalan dan rasa hormatnya terhadap tata nilai—baik dalam konteks individual maupun sosial (Boen S. Oemarjati, dalam Sumardi, 1992: 196). Secara khusus pembelajaran sastra bertujuan mengembangkan kepekaan siswa terhadap nilai-nilai indrawi, nilai akali, nilai efektif, nilai sosial, ataupun gabungan keseluruhannya. Dalam konteks inilah pembelajaran sastra perlu dilaksanakan. Guru dituntut untuk dapat menjembatani pemerolehan pemahaman siswa melalui unsur-unsur instrinsik maupun ekstrinsik dalam karya sastra. Hal ini disebabkan bahwa sastra pada hakikatnya menyajikan suatu ‘kemungkinan’ dalam menanggapi suatu permasalahan. ‘Kenyataan’ yang disajikan karya sastra bukanlah untuk diperiksa kebenarannya terhadap alam nyata, melainkan bersifat menghimbau penikmat sastra untuk ‘menyelam’—dan bila perlu ‘menggali’ untuk menemukan sesuatu berupa nilai-nilai. Gambaran dari uraian tersebut dapat dilihat sebagaimana bamgar di bawah ini, PENGARANG GURU KARYA SASTRA SISWA 

2. Drama dan dunia anak – memesis – dulce et utile Masa kanak-kanak merupakan masa perkembangan yang memiliki banyak sisi. Dari sisi kekanakannya, anak-anak akan membutuhkan pengajaran etika, tentang baik dan buruk bagi mereka. Guru dan orang tua dituntut untuk dapat menetapkan ukuran-ukuran yang memadai, dan menggali hal-hal khusus tentang budi pekerti, serta memperkayanya agar selalu lebih menarik dan menyenangkan bagi anak (Abdul Majid, 2002: vii) Berkaitan dengan kegiatan drama, drama anak-anak merupakan kegiatan yang dipersiapkan untuk pengembangan daya cipta (kreativitas) dan mendorong ekspresi pribadi. Di tingkat-tingkat selanjutnya kegiatan drama di sekolah dipergunakan untuk mempersiapkan untuk membantu anak menyesuaikan diri dengan tuntutan-tuntutan sosial dalam kehidupannya (Taylor, 1988: 2). Drama anak hendaknya mampu mewadahi dunia anak-anak. Selain sebagai tempat untuk mengekpresikan diri, juga tempat bermain dan memperoleh kesenangan dalam kelompok. Drama anak-anak harus dibangun dengan pemahaman dulce et utile, sweet and useful. Hal tersebut disebabkan eksistensi drama adalah menampilkan cerminan kejadian dalam kehidupan (mimesis). Oleh sebab itu drama anak-anak juga harus dapat dipakai mewadahi kehidupan anak melalui cerita-cerita yang dipentaskannya. 

3. Pementasan drama anak-anak Pementasan drama anak-anak dapat ditempuh melalui dua jalur, pertama drama anak-anak yang dimainkan oleh orang dewasa dengan atau tanpa pemain anak-anak, dipertunjukkan di hadapan penonton anak-anak. Kedua drama anak-anak yang dimainkan oleh anak-anak untuk penonton anak-anak pula. Dalam pementasan jenis ini tokoh orang tuapun dimainkan oleh anak-anak, namun dalam penangannya sudah barang tentu melibatkan orang dewasa. Keterlibatan tersebut utamanya berkaitan dengan pelatihan, penyiapan pementasan, kostum/rias, tata lampu, dan hal-lain yang tidak mungkin dilakukan oleh anak-anak (Hamzah, 1985: 137-138). 

4. Pembelajaran drama di sekolah dasar – bagaimana dilaksanakan? Setiap siswa yang kita hadapi, selain merupakan individu, juga suatu totalitas yang kompleks. Pada diri siswa dapat dikenali sejumlah kecakapan, yang biasanya terwujud dalam bentuk kekurangan ataupun kelebihannya. Dalam kegiatan pembelajaran, kecakapan-kecakapan inilah yang harus dilatih. Bagi siswa yang lemah perlu dicermati, yang memiliki kelebihan perlu diarahkan dan dikembangkan lagi. Kecakapan-kecakapan tersebut antara lain: (a) kecakapan yang bersifat indrawi, (b) kecakapan nalar, (c) kecakapan afektif, (d) kecakapan sosial, dan (e) kecakapan religius. Seluruh kecakapan tersebut mewakili aspek personal kehidupan manusia (a—c), dan sejajar dengan apa yang disajikan karya sastra pada umumnya (a—e) (Sumardi, 1992: 200). Pada pembelajaran drama, pengembangan kecakapan-kecakapan dilaksanakan secara terpadu melalui sebuah proses penggarapan drama dari awal pelatihan hingga sebuah cerita drama usia dipentaskan. Kecakapan-kecakapan tersebut hendaknya dikembangkan dengan mempertimbangkan berbagai aspek sesuai dengan tingkat perkembangan siswa. Peran guru tidak semata sebagai orang yang serba tahu, melainkan sebagai mediator dalam memberikan arahan pemeranan terhadap siswanya. Efektivitas pembelajaran drama, terutama ditentukan oleh corak jalinan komunikasi antara guru dengan siswanya. Jika upaya untuk menjalin komunikasi tersebut berhasil (positif), maka terbukalah kepercayaan siswa terhadap guru, yang selanjutnya siswa akan membuka diri secara lugas. Inilah yang dapat dipakai sebagai modal berharga dalam pembelajaran drama. 

5. Pemanfaatan ‘permainan’ (Jw.: dolanan) sebagai dasar pengembangan seni drama di sekolah dasar. Pada bagian G.2, di atas telah dijelaskan bahwa drama anak hendaknya mampu mewadahi dunia anak-anak. Selain sebagai tempat untuk mengekpresikan diri, juga tempat bermain dan memperoleh kesenangan dalam kelompok. Hal ini berarti bahwa drama anak-anak harus dibangun dengan hal-hal yang ada di lingkungan anak, sesuai dengan karakteristik tingkat perkembangan anak, dan sesuai dengan ciri fisik anak. Selain itu drama anak haruslah dikembangkan dengan kegiatan-kegiatan yang lazim dilakukan anak. Salah satu bentuk kegiatan tersebut adalah ‘permainan’ anak-anak. ‘Permainan’ merupakan kegiatan yang secara umum dilakukan anak secara wajar/lugas, oleh sekelompok anak, dengan atau tanpa penokohan, diiringi dengan nyanyian atau tanpa nyanyian, dilakukan di saat-saat tertentu, dengan pola permainan yang khas, dan dengan bentuk sajian arena. Berdasarkan karakteristik-karakteristik tersebut, maka ‘permainan’ anak dapat dipakai sarana dasar untuk mengembangkan pembelajaran drama. Hal tersebut disebabkan ‘permainan’ memiliki unsur yang mirip dengan unsur-unsur drama. Permainan anak sangat beragam, sesuai dengan daerah dimana anak berada. Masing-masing daerah memiliki ragam permainan anak yang unik dan khas. Permainan-permainan ini ada yang memiliki kemiripan dengan daerah lainnya, namun juga ada yang berbeda, dan bahkan hanya ada di suatu daerah tertentu saja. Penelitian ini akan mengetengahkan/memilih jenis-jenis permainan yang lazim ada di berbagai daerah Jawa Timur sebanyak lima buah permainan, dengan karakteristik sebagai berikut: a. ‘Pasaran’ (jual beli) - dimainkan dua orang atau lebih - menggunakan property layaknya orang berdagang (timbangan, dagangan, uang mainan) - lebih banyak menggunakan dialog - umumnya dimainkan anak perempuan, walaupun pada pengembangannya dapat juga melibatkan laki-laki. b. ‘Jamuran’ (konfigurasi jamur) - dimainkan sekelompok anak - tidak banyak menggunakan property - diiringi nyanyian “jamuran gege” - mengutamakan gerakan melingkar layaknya jamur - umumnya dimainkan oleh anak perempuan c. ‘Jaran Teji’ - dimainkan oleh sekelompok laki-laki - menggunakan ‘kuda-kudaan’ - diiringi nyanyian dan gerakan d. ‘Dayoh-dayohan’/’’mbedhayoh’(bertamu) - dimainkan oleh dua orang atau lebih - menggunakan property kursi, meja, dan perlengkapan bertama lainnya. - mengutamakan dialog - pemain laki-laki atau perempuan atau campuran. e. ‘Manten-mantenan’ (pengantin) - dimainkan oleh sekelompok besar anak, terdapat sepasang anak yang memerankan pengantin laki-laki dan pengantin perempuan. - terdapat peraga orang tua mempelai dan besan - diiringi musik-musik sederhana, nyanyian, dan dialog-dialog - bisa diselingi gerakan-gerakan atau tarian. Pada praktiknya, jenis-jenis permainan ini dapat dikembangkan lagi menjadi lebih bervariasi.

6. Mendesain pembelajaran drama di sekolah dasar Desain pembelajaran yang dicobakan pada penelitian ini adalah dengan cara memadukan berbagai pendekatan, metode, dan teknik, dalam sebuah proses pembelajaran. Paduan tersebut utamanya berkaitan dengan pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran drama dengan pembelajaran konvensional yang lazim dilaksanakan di sekolah dasar. Secara umum desain pembelajaran tersebut memiliki tahapan-tahapan sebagai berikut: a. Persiapan. (1) penyiapan ruang (2) penyiapan siswa (3) penyiapan property pendukung pembelajaran b. Pengantar pembelajaran (1) arahan pembelajaran—apa yang harus dilakukan oleh siswa (2) informasi materi (3) pembentukan kelompok (bila diperlukan) (4) arahan kerjasama yang harus dilakukan siswa c. Penyampaian materi inti (1) pemanasan (2) latihan gerakan disertai latihan vokal (3) kerja kelompok memilih permainan yang disukai (4) berlatih secara berkelompok (dibimbing guru) (5) pengarahan perbaikan (6) uji coba peran (7) pengarahan perbaikan d. Penampilan (memilih kelompok yang paling siap tampil sebagai contoh) - dipilih kelompok yang lebih dahulu paling siap, dan bergiliran dengan kelompok berikutnya. - sebagai pengiring atau pendukung property dapat menggunakan guru bantu, - evaluasi perkelompok e. Evaluasi Evaluasi tidak mutlak dilaksanakan sebab penilaian yang utama ada pada proses dari awal hingga penampilan kelompok.

DASAR-DASAR BERMAIN DRAMA

I.   PENDAHULUAN Drama adalah kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas dengan media  percakapan(dialog), gerak da...