Translate

Tampilkan postingan dengan label pelatihan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pelatihan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 September 2021

Menulis Naskah Drama Anak-anak

 

<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-9890042853194778"

     crossorigin="anonymous"></script>

Contoh Penulisan Naskah Drama Anak-anak


“SERIGALA SAKIT GIGI”
(Petualangan Kancil dan Kawan-kawan)

Adaptasi dari cerita: “SI KANCIL” Karya: Anandha


(Bisa diberi ilustrasi menarik sesuai tema cerita)

 1.      Penulis Naskah: Dyah Safitri K.

A. Sinopsis cerita:
Pada suatu saat, Serigala yang terkenal jahat itu menderita sakit gigi. Telah banyak obat yang ia makan namun tak dapat menyembuhkannya. Hingga suatu hari ia bermimpi ditemui oleh seorang nenek sihir yang memberitaukan bahwa jika makan daging tupai maka ia akan sembuh. Dan diculiklah sang Tupai. Namun Kancil dan teman-temannya tak membiarkan Serigala itu memakan sahabat mereka. Sekuat tenaga, mereka mencari jalan untuk menolong Sang Tupai tersebut. Dan mulailah petualangan yang seru ini.

 

B. Pelaku/tokoh:

1. Serigala       : Noval
2. Kancil          :
Dian
3. Kera            :
Hardy
4. Kambing     :
Joko
5. Kucing        :
Rere
6. Kelinci         :
Andaru
7. Tikus           :
Sueb
8. Ayam          :
Zulfarida
9. Tupai           :
Aan
10. Nenek Sihir:
Asih K.
11. Narator      :
Nia

 

C. Karakterisasi:

1. Serigala       : jahat, culas, keras, kasar
2. Kancil          : cerdik, penuh selidik, banyak akal
3. Kera            : cerdik, gampang ngambek, lucu, menggemaskan
4. Kambing     : bodoh, mudah diakali, penurut
5. Kucing        : banyak tingkah, gesit, menjengkelkan
6. Kelinci         : penurut
7. Tikus           : penakut
8. Ayam          : penurut
9. Tupai           : lincah, suka membantu, tidak banyak tingkah
10. Nenek Sihir: jahat, suka memperdaya orang


D. Konsep panggung

Panggung konvensional(menghadap penonton) dengan luas 9X6 meter (atau diatur menurut kebutuhan)

 

E. Properti/peralatan

1.      Batu besar 3, batu kecil

2.      Pepohonan

3.      Tongkat sihir

4.      dst

 

F. Efek pendukung

1.      Lampu

2.      Sound

3.      Dry ice

4.      Dsb.

 

G. Pembabakan

Drama ini terdiri dari 3 babak dengan durasi pementasan kira-kira sekitar 30 menit

 

H. Gambaran Struktur Dramatik(Alur/plot)



BABAK I:

Suasana: Malam Hari (SFX: SUARA JENGKERIK, BURUNG HANTU)

Latar Panggung : Hutan Belantara

Narator:
Pada suatu malam di sebuah hutan yang lebat dan terdapat banyak binatang telah terjadi kehebohan. Seekor serigala jahat tiba-tiba mengamuk dengan membabi buta. Sebabnya ialah sang serigala sedang menderita sakit gigi. Tentu saja seluruh binatang jadi takut. Mereka lari dan bersembunyi.

(SUARA MUSIK CERIA MENGHANGATKAN SUASANA. BINATANG-BINATANG MUNCUL DENGAN TARIANNYA YANG MENARIK. MEREKA BEGITU AKRAB. TAPI TIBA-TIBA, SUARA TERIAKAN SFX SERIGALA MEMECAHKAN SUASANA. DAN MUSIK MENJADI TEGANG. KAWANAN BINATANG PUN LARI KOCAR-KACIR. MEREKA BERSEMBUNYI DI BALIK SEMAK-SEMAK. CAHAYA LAMPU MEREDUP)

SANG SERIGALA MUNCUL DAN MENGERANG KESAKITAN. IA BERJALAN TERTATIH-TATIH. SUASANA TAMPAK MENCEKAM. SERIGALA ITU TIBA DI TENGAH PANGGUNG DENGAN MERAUNG-RAUNG. TANGANNYA MEMEGANG SEBELAH PIPINYA YANG BENGKAK.

 01. Serigala        : Aduh sakit….. Tolong….. Aduh….. sakit….. aduh…..Tolonglah teman-teman berikan aku obatnya. Aduh, sakit…..!

(SANG SERIGALA BERLALU. SUARANYA SEMAKIN LAMA SEMAKIN MENJAUH. DAN LENYAP. PANGGUNG PUN MULAI BENDERANG KEMBALI. BEBERAPA BINATANG MASUK KE ATAS PENTAS DENGAN WAJAH KETAKUTAN. LALU PERGI KE ARAH SEMAK BELUKAR UNTUK BERSEMBUNYI. KANCIL JUGA KELUAR DARI TEMPAT PERSEMBUNYIAN-NYA DENGAN HATI-HATI. IA MENENGOK KIAN KEMARI UNTUK MEMASTIKAN SERIGALA ITU TELAH PERGI)

02. Kancil           : (BERBISIK) Kera…. Kera….! Ayo keluar.

03. Kera             : (DARI BALIK PEPOHONAN) Sssstt….., Aku disini….

04. Kancil           : (MENGEDARKAN PANDANGANNYA) Dimana kamu Kera? Aku tak melihatmu.

05. Kera             : Disini,…. Aku disini.

06. Kancil           : (JENGKEL) Iya, disini itu dimana? Aku tetap tak melihatmu.

07. Kera             : Ya disini. Cobalah Kancil berjalan dua langkah ke arah kanan.

08. Kancil           : (KANCIL MENURUT) Satu…. dua….

09. Kera             : Lalu mundur lagi ke arah belakang lima langkah.

10. Kancil           : Satu, dua, tiga, empat dan lima….. Sudah, kamu dimana?

11. Kera             : Sekarang putar kepalamu ke arah kiri.

12. Kancil           : Begini?

13. Kera             : Ya.

14. Kancil           : Lalu?

15. Kera             : (MUNCUL DI BELAKANG KANCIL DENGAN MENGENDAP-ENDAP) Dar !

16. Kancil           : (TERKEJUT) Waduh ampun…..!!!

17. Kera             : (TERTAWA TERBAHAK-BAHAK) Haha….ha…ha….

18. Kancil           : (bersungut dan marah) Huuh, bilang kek dari tadi. Jangan pakai kejutan segala. Kancil kan jadi takut.

19. Kera             : Jangan marah dong, Cil. Aku kan hanya bercanda. Hehe….

20. Kancil           : Bercanda ya bercanda, tapi jangan ngerjain Kancil dong !

21. Kera             : Oke deh, maaf. Kalau begitu kita pacantel saja….(KERA MENYODORKAN TANGAN, TAPI KANCIL TAK MEMPEDULIKANNYA)

22. Kera             : O, jadi marah beneran nih. Baik kalau begitu. Lihat ini…..(KERA MENGERUTKAN MUKANYA YANG LUCU DAN MULAI BERTINGKAH SUPAYA MEMBUAT KANCIL TERSENYUM. TAPI KANCIL SEOALAH-OLAH TAK MELIHATNYA).

23. Kera             : Lho, kok gak mempan juga. Ya sudah, aku pulang saja….(BARU SAJA KERA BERJALAN BEBERAPA LANGKAH, TIBA-TIBA KAKINYA TERPELESET MENGINJAK KULIT PISANG. DAN JATUH)

24. Kera             : Aduh…..!

25. Kancil           : (TERTAWA) Rasain….. Makanya kalau buang sampah jangan sembarangan

26. Kera             : Huh, bukannya menolong malah menertawakan

27. Kancil           : Ya, salah sendiri

28. Kera             : O, jadi Kancil tak mau menolong saya?

29. Kancil           : Baik, deh, baik…… (KANCIL MENGAHAMPIRI KERA YANG TERDUDUK DI ATAS TANAH SEMABARI MENYODORKAN TANGANNYA. NAMUN TIBA-TIBA KERA MENARIK TANGAN SANG KANCIL HINGGA TERJATUH BERANGKULAN. KEDUANYA TERTAWA LEPAS. DAN SESAAT MENJADI HENING. KANCIL SEPERTI TERINGAT SESUATU).

30. Kancil           : Eh, Kera. Apakah kamu melihat apa yang kulihat tadi?

31. Kera             : (MENGERUTKAN DAHINYA) Apa itu Kancil? Tadi kan gelap

32. Kancil           : (SEOLAH BERFIKIR) Kalau begitu apakah Kamu mendengarkan apa yang tadi kudengar?

33. Kera             : Mendengar apalagi, Kancil? Kok saya jadi tak mengerti maksudnya .

34. Kancil           : Ya, mendengar suara dong. Tadi aku mendengar suara yang seperti minta tolong. Begini (menirukan suara Serigala)Aduh sakit….. Tolong…. Aduh….. Aduh……

35. Kera             : Oooo, yang itu. Iya aku juga mendengar. Memangnya kenapa?

36. Kancil           : Suara siapa, ya? Kok rasanya saya kenal. Aku ingin sekali menolongnya.

37. Kera             : Ah,….. (membelakangi Kancil) buat apa kita susah-susah menolongnya? Toh kita sendiri tidak tahu siapa yang minta pertolongan itu.

38. Kancil           : Lho, kok Kera ngomongnya begitu sih? Kita ini kan sesama mahluk ciptaan Tuhan. Jadi sudah seharusnya kita saling menolong. Bukankah dengan tolong menolong itu kita akan mendapatkan pahala, betul kan?

39. Kera             : Iya, tapi menolong siapa dulu….. Nah, kalau yang kita tolong itu jahat bagaimana? Kita sendiri kan yang jadi repot

40. Kancil           : Betul juga, ya. Tapi kalau dia baik?

41. Kera             : Ya tidak tahu…..

42. Kancil           : Ah, saya punya akal!

43. Kera             : Apa itu?

44. Kancil           : Kalau begitu, kita tanyakan saja pada teman-teman kita. Siapa tahu diantara mereka ada yang mengetahuinya. Yuk?

45. Kera             : Ayo, siapa takut…..
(MUSIK PERGANTIAN BABAK, LAMPU MATI) BABAK BERIKUTNYA..........

 

BABAK II

 ……dst………………………….

Nulis Basa Jawa Nganggo Tulisan latin lan Nulis Basa Jawa nganggo Tulisan Jawa

 Nulis Basa Jawa Nganggo Tulisan latin ꦤꦸꦭꦶꦱ꧀ꦧꦱꦗꦮꦔꦁꦒꦺꦴꦠꦸꦭꦶꦱꦤ꧀ꦗꦮ

꧁꧂

 

A.     Cara pengetikan aksara Jawa dengan menyetting bahasa pada windows dan keboard Javanese



 

1.      Setting  keyboard Javanese Tex

2.    Aktifkan Touch Keyboard



 3.     Tampilan Touch Keyboard Javanese


4.     Pahami fungsi tombol pada Keyboard Javanese, jika dibutuhkan aksara pasangan dan sandhangan (di bagian atas)digunakan dengan cara menekan tombol shift + sandhangan/pasangan yang diperlukan.

Misalnya:

Kali Jaga= tekan aksara k l(shift i)j g = ꦏꦭꦶꦗꦒ

Jajan pasar= tekan aksara jjn/ps(ꦂ)= ꦗꦗꦤ꧀ꦥꦱꦂ

5.     Silakan berlatih untuk memperoleh pemahaman fungi tombol keyboard Javanese dengan sempurna.

 

B.     Cara pengetikan aksara Jawa(manual) dengan menyetting font hanaj.ttf pada MS Word.

1.     Install font hanacaraka.ttf pada laptop

 


2.     Aktifkan pada MS Word Anda

 


3.     Gunakan maping keyboard untuk menulis Jawa

 


 4.     Contoh penggunaan font dan keyboard manual

 

jaga baya = jgby utawa jgby

mangan apem= mznHpem\  utawa mznHpem\

 

C.   Tata rakite nulis basa Jawa nganggo aksara Jawa:

 1. Yen ana aksara sigeg jejer 2, aksara kang papindho dipasangi

Tuladha: lampu: lmPu

jajan pasar: jjnPs/

tuadha liyane: bnD, k[nT/o, bsMn\

punTen\, bunDs\ bkF, lumP-,


2.  Yen ana aksara sigeg jejer telu, aksara kapisan dipangku. Tuladha:

jajan klanthing: jjn\ kLnQi=

wit klapa: wit\kLp

mangan klanthing:mzn\[kL=[k=,

3.  Aksara pasangan ka, la, lan ta, yen entuk sandhangan suku, cakra, keret, lan pengkal, bali menyang wujud asline. Tuladha:

Blunas blunus: ꦧ꧀ꦭꦸꦤꦱ꧀ ꦧ꧀ꦭꦸꦤꦸꦱ꧀

klumprak klumpruk: ꦏ꧀ꦭꦸꦩ꧀ꦥꦿꦏ꧀ ꦏ꧀ꦭꦸꦩ꧀ꦥꦿꦸꦏ꧀

klelegen klungsu: ꦏ꧀ꦭꦼ꧒ꦒꦼꦤ꧀ ꦏ꧀ꦭꦸꦁꦱꦸ

wit glugu: ꦮꦶꦠ꧀ ꦒ꧀ꦭꦸꦒꦸ

wit klapa: ꦮꦶꦠ꧀ ꦏ꧀ꦭꦥ

kruget kruget: ꦏꦿꦸꦒꦼꦠꦒꦼꦠ꧀

wit trubus: ꦮꦶꦠꦧꦸꦱ꧀

pak kyai: ꦥꦏ꧀ꦏꦾꦲꦶ

4.  Yen ana aksara na ketemu ca utawa ja, lan za, mujudake nasalisasi (aksara irung) aksara na owah dadi nya. Tuladha: pancing, munjuk, kuncung, lanjaran, lsp. Dene sing ora nasalisasi tetep wae. Tuladhane: pakan jalak, mangan jagung, jajan cucur,

pancing: pvCi=

panjul: pvJ|l\

munjuk: muvJ|k\

lanjaran: lvJ/rn\

Yen dudu nasalisasi panulise aksana ꦤ ora owah:

jajan cucur: jjnC|cu/

pakan jalak: pknJlk\

5.  Aksara murda, panganggone mung:

a.   Kanggo nulis jeneng pikurmatan

-        Raden Ajeng Kartini: ꦫꦢꦺꦤ꧀ꦲꦗꦼꦁꦑꦂꦡꦶꦟꦶ

-        Kanjeng Sinuwun Mangkubumi: ꦑꦚ꧀ꦗꦼꦁꦯꦶꦟꦸꦮꦸꦤ꧀ꦩꦁꦏꦸꦧꦸꦩꦶ

-        Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Mangku Nagara: ꦑꦚ꧀ꦗꦼꦁꦯꦶꦟꦸꦮꦸꦤ꧀ꦩꦁꦏꦸꦧꦸꦩꦶ

(Panulise aksara Murda sing ana ditulis kabeh)

 

b.  Kanggo nulis jenenge wong lan panggonan, tuladha: Surabaya, Bandung, Kretosono, Pekalongan, lsp.

Ngayogyakarta,

Surabaya: $urby  

Mojokerto: [mo[jo@e/[to

Lamongan: l[mozn\

Nganjuk: zvJ|k\

[*o[nFo[wo[so

c.   Kanggo nulis purwaning ukara, sebagian ahli durung sarujuk, ana sing nduwe panemu kudu migunakake aksara murda, lan sebagian maneh ora sarujuk. Awit tulisan jawa mono sejatine ora kenal sing diarani aksara kapital. Dadi kanggo nulis ukara cukup migunakake adeg-adeg wae.

꧌꧌ꦠꦸꦭꦶꦱꦤ꧀ꦗꦮꦩꦺꦴꦤꦺꦴꦱꦼꦗꦠꦶꦤꦺꦲꦺꦴꦫꦏꦼꦤꦭ꧀ꦱꦶꦁꦢꦶꦲꦫꦤꦶꦲꦏ꧀ꦱꦫꦏꦥꦶꦠꦭ꧀ ꦢꦢꦶꦏꦁꦒꦺꦴꦤꦸꦭꦶꦱ꧀ꦲꦏ꧀ꦱꦫꦕꦸꦏꦸꦥ꧀ꦩꦶꦒꦸꦤꦏ꧀ꦲꦏꦺꦲꦢꦼꦒ꧀ꦲꦢꦼꦒ꧀ꦮꦲꦺ꧉

6.  Kanggo nulis angka migunakake angka jawa kanthi menehi adeg-adeg arupa cecak loro.

Tuladhane:

lahir tahun 1990: lai/ taun\ ;1990;

tahun 1348: taun\ ;1348;

7.  Aksara panjingan le (pepet) le owah dadi 2 ananging rakitan pasangane tetep….e.L Semono uga kanggo re owah dadi pa ceret x lan pasanganeà >   tuladha= remuk rempu: xmuk>mPu

 

Kamis, 08 November 2018

Drama Sebagai Seni Pertunjukan


Heru Subrata (herusubrata@unesa.ac.id)

Drama, sebagai karya seni, barulah lengkap jika dimainkan atau dipentaskan. Maksudnya, cakapan tiap-tiap tokoh harus diucapkan oleh orang yang memerankannya (Disebut “aktor” untuk yang pria, “aktris” untuk wanita). Cakapan tidak sekedar diucapkan, tetapi disertai dengan gerak-gerik yang sesuai menurut tafsiran aktor atau aktrisnya. Didalam suatu pementasan drama, pengelola dan penanggung jawab seluruh kegiatan pementasan disebut “produser”, sedangkan yang bertanggung jawab atas nilai artistik pementasan disebut “sutradara”. Tugas utama sutradara adalah menata gerak para aktor dan aktris. Ia juga harus bekerja sama dengan berbagai pihak yagn terlibat, seperti penata panggung, penata cahaya (lampu), dan penata bunyi (musik).
 Supaya tokoh-tokoh di dalam drama dapat diperankan dengan baik, teks drama perlu lebih dahulu dipahami benar-benar. Diperlukan daya bayang yang kuat  untuk dapat membaca dan menikmati karya sastra yang berbentuk drama. Mengapa?Antara lain karena sifat tokoh-tokohnya dan keadaan serta suasana peristiwa  yang terjadi tidak dideskripsikan oleh pengarangnya. Yang ada hanyalah cakapan antartokoh. Keterangan tentang tempat serta waktu kejadiaannya hanya dinyatakan secara singkat di antara tanda kurung. Demikian pula gerak-gerik dan suasana hati para tokohnya

Mengapresiasi Pementasan Drama
1.     Peran Tokoh dalam Pementasan Drama
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian drama adalah komposisi syair atau prosa yang diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak pelaku melalui tingkah laku atau dialog yang dipentaskan. Drama sering disebut dengan teater, yaitu sandiwara yang dipentaskan sebagai ekspresi rasa keindahan atau seni. Sebagai karya seni, drama perlu diapresiasi. Salah satu cara apresiasi drama ialah dengan menemukan unsur-unsur drama. Salah satu unsur tersebut ialah tokoh.
Tokoh dalam pementasan  drama mempunyai posisi yang penting. Tokohlah yang mengaktualisasikan naskah drama di atas pentas. Tokoh yang didukung oleh latar peristiwa dan aspek-aspek lainnya akan menampilkan cerita dan pesan-pesan yang ingin disampaikan.
Berdasarkan perannya, tokoh terbagai atas tokoh utama dan tokoh pembantu. Tokoh utama adalah tokoh yang menjadi sentral cerita dalam pementasan drama sedangkan tokoh pembantu adalah tokoh yang dilibatkan atau dimunculkan untuk mendukung jalan cerita dan memiliki kaitan dengan tokoh utama.
Bagaimana cara menentukan tokoh dalam pementasan drama?Tokoh utama setidaknya ditandai oleh empat hal, yakni (1) paling sering muncul dalam setiap adegan, (2) menjadi sentral atau pusat  perhatian tokoh-tokoh yang lain, (3) kejadian-kejadian yang melibatkan tokoh lain selalu dapat dihubungkan dengan peran tokoh utama, dan (4) dialog-dialog yang dilibatkan tokoh-tokoh lain selalu berkaitan dengan peran tokoh utama.
Dari segi perwatakannya, tokoh dan perannya dalam pementasan drama terdiri  4 jenis, yaitu tokoh berkembang, tokoh pembantu, tokoh statis dan tokoh serba bisa. Tokoh berkembang adalah tokoh yang mengalami perkembangan selama pertunjukan. Misalnya, tokoh yang awalnya seorang yang baik, namun pada akhirnya  menjadi seorang yang jahat. Tokoh pembantu adalah tokoh yang diperbantukan untuk menjelaskan tokoh lain. Tokoh pembantu merupakan minor character yang berfungsi sebagai pembantu saja atau tokoh yang memerankan suatu bagian penting dalam drama, namun fungsi utamanya tetap sebagai tokoh pembantu. Tokoh statis adalah tokoh yang tidak mengalami perubahan karakter dari awal hingga akhir dalam dalam suatu drama. Misalnya, seorang tokoh yang berkarakter jahat dari awal drama akan tetap bersifat jahat di akhir drama. Tokoh serba bisa adalah tokoh yang dapat berperan sebagai tokoh lain (all round). Misalnya, tokoh yang berperan sebagai seorang raja, namun ia juga berperan sebagai seorang pengemis untuk mengetahui kehidupan rakyatnya.
2.     Menentukan Konflik dengan Menunjukan Data yang Mendukung
Dalam drama, konflik merupakan unsur yang memungkinkan para tokoh saling berinteraksi. Konflik tidak selalu berupa pertengkaran, kericuhan, atau permusuhan di antara para tokoh. Ketegangan batin antartokoh, perbedaan pandangan, dan sikap antartokoh sudah merupakan konflik. Konflik dapat membuat penonton tertarik untuk terus mengikuti atau menyaksikan pementasan drama.
Bentuk konflik terdiri dari dua, yaitu konflik eksternal dan konflik internal. Konflik eksternaladalah konflik yang terjadi antara seorang tokoh dengan lingkungan alamnya (konflik fisik) atau dengan lingkungan manusia (konflik sosial). Konflik fisik disebabkan oleh perbenturan antara tokoh dengan lingkungan alam. Misalnya,seorang tokoh mengalami permasalahan ketika banjir melanda desanya. Konflik sosial disebabkan oleh hubungan atau masalah social antarmanusia. Misalnya, konflik terjadi antara buruh dan pengusaha di suatu pabrik yang mengakibatkan demonstarasi buruh. Konflik Internal adalah konflik yang terjadi dalam diri atau jiwa tokoh. Konflik ini merupakan perbenturan atau permasalahan yang dialami seorang tokoh dengan dirinya sendiri, misalnya masalah cita-cita, keinginan yang terpendam, keputusan, kesepian, dan keyakinan.
Kedua jenis konflik diatas dapat diwujudkan dengan bermacam peristiwa yang terjadi dalam suatu pementasan drama. Konflik-konflik tersebut ada yang merupakan konflik utama dan konflik-konflik pendukung. Konflik Utama (bias konflik eksternal, konflik internal, atau kedua-duannya) merupakan sentral alur dari drama yang dipentaskan, sedangkan konflik-konflik pendukung berfungsi utnuk mempertegas keberadaan konflik utama.
Bagaimana menentukan konflik dengan menunjukkan data yang mendukung dalam sebuah drama? Data pendukung adanya konflik antara lain dapat dicermati dari perbedaan pandanagan dan sikap yang ditampakkan dalam dialog, ekspresi dan lakuan tokoh-tokoh.
3.     Latar dan Peran Latar.
Latar dalam pementasan drama terdiri dari tempat, waktu, dan suasana. Penataan latar akan menghidupkan suasana. Penataan latar akan menghidupkan suasana, menguatkan karakter tokoh, serta menjadikan pementasan drama semakin menarik. Oleh karena itu, ketetapan pemilihan latar akan ikut menentukan kualitas pementasan drama secara keseluruhan.
4.     Tema Drama
Tema drama adalah gagasan atau ide pokok yang melandasi suatu lakon drama. Tema drama merujuk pada sesuatu yang menjadi pokok persoalan yang ingin diungkapkan oleh penulis naskah. Tema itu bersifat umum dan terkait dengan aspek-aspek kehidupan di sekitar kita.
Tema Utama adalah tema secara keseluruhan yang menjadi landasan dari lakon drama, sedangkan tema tambahan merupakan tema-tema lain yang terdapat  dalam drama yang mendukung tema utama.
Bagaimana menemukan tema dalam drama? Tema drama tidak disampaikan secara implisit. Setelah menyaksikan seluruh adegan dan dialog antarpelaku dalam pementasan drama, kamu akan dapat menemukan tema drama itu. Kamu harus menyimpulkannya dari keseluruhan adegan dan dialog yang ditampilkan. Maksudnya tema yang ditemukan tidak berdasarkan pada bagian-bagian tertentu cerita.
Walaupun tema dalam drama itu cendrung”abstrak”, kita dapat menunjukkan tema dengan menunjukkan bukti atau alasan yang terdapat  dalam cerita. Bukti-bukti itu dapat ditemukan dalam narasi pengarang, dialog antarpelaku, atau adegan atau rangkaian adegan yang saling terkait, yang semuannya didukung oleh unsur-unsur drama yang lain, seperti latar, alur, dan pusat pengisahan.
 5.     Pesan dengan data yang mendukung.
Setiap karya sastra selalu disisipi pesan atau amanat oleh penulisnya. Dengan demikian pula dengan drama. Hanya saja, amanat dalam karya sastra tidak ditulis secara eksplisit, tetapi secara implicit. Penonton menafsirkan pesan moral yang terkandungdalam naskah yang dibaca atau drama yang ditontonnya.
          Bagaimana menentukan pesan drama dengan data yang mendukung?Data yang mendukung dapat kamu peroleh darai narasi pengarang, dialog antarpelaku,adegan atau rangkaian adegan yang saling terkait, yang semuanya didukung oleh unsur-unsur drama yang lain seperti latar, latur, dan pusat pengisahan.
 6.     Mengaitkan isi drama dengan kehidupan Sehari-hari.
Setelah kita menyaksikansebuah pemetasan drama, kita tentu mendapatkan sesuatu yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari. Nah pada bagian ini, kita akan mengaitkan hasil kegiatan kita menyaksikan pementasan drama dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini yang perlu kita kaitkan, yaitu
(1)  Kaitkan antara drama yang kita mainkan dengan diri kita sendiri.
(2)  Kaitkan antara drama kita mainkan dengan orang lain.
(3)  Kaitkan antara drama yang kita mainkan dengan lingkungan social kita.
(4)  Kaitkan antara drama yang kita mainkan dengan masalah-masalah lain yang kompleks.

 Memerankan Drama
Memerankan drama berarti mengaktualisasikan segala hal yagn terdapat di dalam naskah drama ke dalam lakon drama di atas pentas. Aktivitas yang menonjol dalam memerankan drama ialah dialog antartokoh, monolog, ekspresi mimik, gerak anggota badan, dan perpindahanletak pemain.
Pada saat melakkukan dialog ataupun monolog, aspek-aspek suprasegmental (Lafal, intonasi, nada atau tekanan dan mimik) mempunyai peranan sangat penting. Lafal yang jelas, intonasi yang tepat, dan nada atau tekanan yang mendukung penyampaian isi/pesan
1.     Membaca dan Memahami Teks Drama
Sebelum memerankan drama, kegiatan awal yang perlu kita lakukan ialah membaca dan memahami teks drama.Teks drama adalah karangan atau tulisan yang berisi nama-nama tokoh, dialog yang diucapkan, latar panggung yang dibutuhkan, dan pelengkap lainnya (Kontum, lighting, dan musik pengiring). Dalam teks dram, yang diutamakan ialah tingkah laku (acting) dan dialog (percakapan antartokoh) sehingga penonton memahami isi cerita yang dipentaskan secara keseluruhan. Oleh karena itu, kegiatan membaca teks drama dilakukan sampai dikuasainya naskah drama yang akan diperankan.
Dalam teks drama yang perlu kamu pahami ialah pesan-pesan dan nilai-nilai yang dibawakan oleh pemain. Dalam membawakan pesan dan nilai-nilai itu, pemain akan terlibat dalam konflik atau pertentangan. Jadi, yang perlu kamu baca dan pahami ialah rangkaian peristiwa yang membangun cerita dan konflik-konflik yang menyertainya.
 2.     Menghayati Watak Tokoh yang akan Diperankan
Sebelum memerankan sebuah drama, kita perlu menghayati watak tokoh. Apa yang perlu kita lakukan untuk menghayati tokoh? Watak tokoh dapat diidentifikasi melaui (1) narasi pengarang, (2) dialog-dialog  dalam teks drama, (3) komentar atau ucapan tokoh lain terhadap tokoh tertentu, dan (4) latar yang mengungkapkan watak tokoh.
Melalui menghayati yang sungguh-sungguh, kamu dapat memerankan tokoh tertentu dengan baik. Watak seorang tokoh dapat diekspresikan melalui cara sang tokoh memikirkan dan merasakan, bertutur kata, dan bertingkah laku, seperti dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Artinya, watak seorang tokoh bisa dihayati mulai dari cara sang tokoh  memikirkan dan merasakan sesuatu, cara tokoh bertutur kata dengan tokoh lainnya, dan cara tokoh bertingkah laku.

DASAR-DASAR BERMAIN DRAMA

I.   PENDAHULUAN Drama adalah kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas dengan media  percakapan(dialog), gerak da...